Pedro Sánchez Jadi Satu-Satunya Pemimpin Eropa yang Berani Tantang Donald Trump
Ketika Perdana Menteri Spanyol mengecam perang di Iran, para politisi lain tidak mampu – atau tidak mau – berbicara menentang presiden AS.
Suara Sánchez semakin keras—tetapi untuk saat ini masih relatif sendirian.
Sementara perdana menteri Denmark Mette Frederiksen mendapat pujian karena memimpin penolakan Eropa terhadap upaya Trump mengklaim Greenland, Sánchez belum mendapatkan dukungan penuh dari ibu kota besar Eropa.
Di Paris, presiden Prancis Emmanuel Macron menelepon Sánchez untuk menyatakan “solidaritas Eropa” terhadap ancaman perdagangan dari AS. Namun posisi Prancis tetap hati-hati.
Macron menyatakan bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran tidak mematuhi hukum internasional, tetapi juga mengatakan bahwa kepemimpinan Iran turut bertanggung jawab karena program nuklirnya, pendanaan kelompok teroris, dan pelanggaran HAM.
Prancis—yang dulu dengan keras menentang perang Irak 2003 di bawah presiden Jacques Chirac—kini memilih pendekatan pragmatis. Paris bahkan mengirim kapal induk Charles de Gaulle aircraft carrier ke Mediterania timur sebagai kehadiran “murni defensif” untuk mendukung sekutu regional seperti Siprus, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Dari Jerman, perbedaan retorika bahkan lebih tajam. Kanselir Friedrich Merz menyatakan bahwa memperdebatkan aspek hukum internasional dari konflik Iran “tidak banyak membantu”, dan mengatakan ini bukan saatnya menguliahi sekutu.
Merz—yang menghadapi tekanan politik dari partai kanan jauh Alternative für Deutschland dan berusaha memulihkan ekonomi Jerman—tidak mampu mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Trump.
Ketika Trump mengumumkan rencana menghentikan perdagangan dengan Spanyol, Merz bahkan justru mendukung kritik Trump terhadap Madrid karena menolak proposal NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga 5% dari PDB.
Belakangan Merz mengatakan kepada wartawan Jerman bahwa ia tidak ingin membantah Trump “di panggung terbuka”, meski mengklaim telah membela Spanyol dan Inggris secara pribadi. Namun kerusakan diplomatik sudah terlanjur terjadi.
Di Italia, posisi pemerintah juga ambigu. Perdana menteri Giorgia Meloni mencoba menjaga keseimbangan antara kedekatan dengan Trump dan komitmen pada Eropa.
“Kami tidak sedang berperang dan tidak berniat masuk ke dalam perang,” kata Meloni. “Situasinya mengkhawatirkan… dunia semakin diatur oleh kekacauan.”
Namun menteri pertahanan Italia Guido Crosetto lebih tegas, mengatakan bahwa keputusan menyerang Iran “jelas berada di luar aturan hukum internasional”.
Menteri luar negeri Italia Antonio Tajani juga mengatakan Roma belum menerima permintaan dari AS untuk menggunakan pangkalan militer di Italia untuk operasi terhadap Iran.





