Pentingnya Kata Jihad dalam Kehidupan Umat
Menurut ulama besar Sayid Sabiq, jihad mempunyai pengertian yang sama dengan perang. Yaitu, meluangkan segala usaha dan berupaya sekuat tenaga serta menanggung segala kesulitan di dalam memerangi musuh dan menahan agresinya. Menurutnya jihad juga berarti menengakkan Kalimatullah, memperkokoh status hidayah di permukaan bumi dan mempertahankan agama yang benar. Karena itu jihad lebih utama daripada ibadah haji, sunnah, umrah dan lebih utama daripada shalat sunnah dan puasa sunnah.
Sayid Sabiq menjelaskan bahwa secara prinsip agama Islam adalah mencintai dan mendorong perdamaian. Sejak dini Islam telah mengumandangkan perdamaian ke segenap penjuru dunia, seraya menetapkan jalan hidup yang bijaksana agar arti hakiki kemanusiaan dapat dicapai. Kaidah dasar Islam adalah salam (damai), sedangkan perang adalah pengecualian.
Karena itu perang, menurut Sayid Sabiq, dibolehkan dalam dua keadaan: Pertama, mempertahankan diri, nama baik, harta dan tanah air ketika diserang musuh. Kedua, dalam keadaan mempertahankan dakwah di jalan Allah. Jika ada orang yang menghentikan dakwah ini dengan jalan menyiksa orang-orang yang seharusnya keamanannya terjamin, atau dengan jalan merintangi mereka yang ingin memeluk ajaran Allah, atau melarang juru dakwah menyampaikan ajaran Allah.
(Selengkapnya makna jihad ini bisa dilihat di buku Sayid Qutb, Biografi dan Kejernihan Pemikirannya, karya Nuim Hidayat).
Maka, melihat makna jihad ini, Palestina yang kini diperangi Israel (dan Amerika) wajib melawan. Jika penduduk Palestina kewalahan –seperti saat ini—negara-negara di sekitar Palestina, seperti Mesir, Yordania, Suriah, Libanon, Arab Saudi, Iran dan lain-lain wajib membantunya. Mereka haram membiarkan Gaza/Palestina melakukan jihad sendirian.
Tindakan buas Israel yang mengakibatkan nyawa umat Islam melayang lebih dari 72 ribu orang, adalah akibat negara-negara sekeliling Palestina berdiam diri. Pimpinan negara-negara itu hanya duduk manis menonton kebiadaban Israel hampir tiap hari. Bahkan yang lebih menyedihkan kepala negara Mesir sering menutup pintu gerbang Rafah, yang merupakan akses penduduk Gaza menerima bantuan internasional.
Kenapa sikap negara-negara Arab kini tidak peduli dengan nasib penderitaan rakyat Gaza/Palestina?
Ya pimpinan negara Arab atau dunia Islam ini kebanyakan telah hilang ruh jihadnya. Banyak perwira-perwira di dunia Islam yang pendidikan militernya di West Point, New York Amerika. Pendidikan di Amerika tentu tidak mengenal kata jihad, sebagaimana Al-Qur’an ajarkan.
Sehingga jangan heran perwira-perwira militer di dunia Islam kini berpikirnya hanya jabatan dan duit. Pikirannya hanya bagaimana mengamankan dan memakmurkan negerinya sendiri –bahkan banyak yang memikirkan dirinya sendiri- tidak peduli dengan nasib bangsa-bangsa di luar negerinya. Maka jangan heran akhirnya penduduk Gaza dibiarkan menderita dari 2003 sampai 2006 saat ini.
Padahal kalau pasukan dunia Islam bergerak melawan Israel –meski kalah karena AS akan membantu Israel—korban Muslim Gaza kemungkinan besar tidak sampai 72 ribu orang.
Tapi begitulah jika ruh jihad telah hilang (dihilangkan). Pendidikan jihad ini penting baik di masa damai maupun perang. Di masa perang, lihatlah bagaimana Al-Qur’an mendidik pasukan-pasukan perang Hamas yang tidak pernah mempunyai rasa takut. Dengan berpedoman pada jihad dalam Al- Qur’an, maka mereka berani mati menghadapi Israel. Bagi pasukan Hamas hidup dan kematian adalah sama saja. Isy kariiman, au mut syahiidan (hidup mulia atau mati syahid) adalah pedoman mereka.
Jika ribuan tentara penjajah Israel banyak yang stres dan bunuh diri, maka tidak ada satupun pasukan Hamas yang stres dan bunuh diri. Mereka tahan banting dan menyambut kematian perang melawan Israel dengan tersenyum. Sehingga banyak tentara Israel yang marah kepada pimpinan negaranya karena mereka dikirim ke Gaza untuk tujuan yang ‘tidak jelas’. Sama seperti para veteran pasukan Amerika yang kini marah kepada Presiden George W Bush karena mereka dikirim ke medan perang Irak pada tahun 2003.






