#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Perang AS–Israel Lawan Iran Dipengaruhi Agama

Konflik ini telah berubah menjadi benturan zero-sum antara kerangka mesianis yang saling bersaing.

Bagi ideolog Zionis ekstrem, Iran dipandang sebagai penghalang spiritual bagi terwujudnya Bait Suci Ketiga, sehingga harus dilemahkan secara militer untuk memenuhi nubuat.

Ideologi Iran: politik sebagai misi keagamaan

Menurut pihak AS, Iran memiliki “delusi profetik Islamis”. Ini merujuk pada ideologi negara Iran, Wilayat al-Faqih (kepemimpinan ulama), yang menyatakan bahwa selama Imam ke-12 (Mahdi) dalam keadaan ghaib, kekuasaan harus dipegang oleh ulama yang memenuhi syarat.

Sebagian kalangan di Iran bahkan mengubah harapan teologis tentang kembalinya Mahdi menjadi doktrin politik operasional. Dalam kerangka ini, perjuangan melawan kekuatan yang dianggap menindas adalah kewajiban suci, dan kompromi diplomatik bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap misi ilahi.

Selama Perang Iran-Irak 1980-an, Iran membingkai konflik sebagai “pertahanan suci” ala Karbala. Narasi ini kemudian berkembang menjadi strategi “pertahanan ke depan”—mengekspor revolusi dan membangun jaringan proksi di kawasan seperti Irak, Suriah, Lebanon, dan Gaza.

Benturan dua visi “takdir ilahi”

Dengan demikian, perang AS–Israel melawan Iran bisa dipahami sebagai konflik keagamaan sekaligus strategis.

Secara religius, dua ideologi peradaban berada dalam konflik langsung, masing-masing melihat keberadaan pihak lain sebagai penghalang bagi tujuan ilahi mereka.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menggunakan kerangka ini dengan menyebut Hamas dan Iran sebagai “Amalek” dalam Alkitab—musuh yang dalam teks suci diperintahkan untuk dimusnahkan sepenuhnya.

Konflik ini pun berubah menjadi benturan zero-sum antara kerangka mesianis yang bersaing, di mana diplomasi konvensional menjadi sangat sulit karena kedua pihak percaya mereka menjalankan mandat ilahi.

Tujuan perang dan arah konflik

Perubahan alasan Washington—dari perubahan rezim, pelucutan militer, hingga pencegahan nuklir—mencerminkan berbagai kepentingan yang memengaruhi kebijakan tersebut.

Namun bagi Netanyahu dan sekutu Zionis serta evangelisnya di AS, hasil ideal perang adalah perubahan rezim atau Iran yang terpecah dan dilemahkan sehingga tidak mampu menantang dominasi Israel.

Israel, yang menurut Netanyahu telah menunggu momen ini selama 40 tahun, akan memanfaatkan kesempatan untuk menghancurkan infrastruktur ekonomi, keamanan, dan militer Iran—bahkan jika tidak berhasil mengganti rezimnya.

Di sisi lain, Iran juga telah lama mempersiapkan diri. Iran memperluas konflik dengan menargetkan pangkalan militer AS dan infrastruktur ekonomi negara-negara Arab, dengan tujuan: menunjukkan bahwa kehadiran militer AS justru menciptakan ketidakamanan, mengungkap ketergantungan pada kekuatan yang memprioritaskan sekutunya, dan pada akhirnya mendorong AS keluar dari kawasan Teluk. []

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button