SUARA PEMBACA

Perayaan Imlek di Mesjid Istiqlal, Sinkretisme Beragama?

Suatu ketika kafir Quraish menawarkan kepada Rasulullah Muhammad saw. agar beliau berkenan untuk menyembah sesembahan mereka sehingga merekapun berkenan menyembah Allah Swt., secara bergantian.

Namun dengan tegas Rasulullah Muhammad saw menolak tawaran itu, yang kemudian menjadi asbabunnuzul turunnya surat Al-Kafirun.

Rasulullah saw memberikan teladan yang sangat jelas. Bagaimana mendudukan akidah dengan sebenarnya dan bagaimana mendudukan makna toleransi dengan benar.

Rasulullah saw memberikan contoh yang sempurna tentang cara menghormati sesembahan dan peribadatan kaum kafir Quraish, tanpa harus mencampuradukan peribadatan muslim dengan kafir.

Yaitu Rasulullah saw melakukan aktivitas dakwah menyeru mengajak berfikir benar kepada umat manusia tentang konsep kebenaran, tentang konsep  akidah yang benar, yang seharusnya diikuti dan diimani oleh seluruh umat manusia. Yaitu  akidah yang lurus dan manusiawi, yang harus sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan mementramkan jiwa.

Akidah yang harus dibangun melalui proses berfikir, sebab semua manusia memiliki akal yaitu kemampuan untuk melakukan proses berfikir secara logis. Dengan memperhatikan seluruh fakta kehidupan yang meliputi alam semesta, manusia, dan kehidupan, sebab hanya ketiga unsur inilah yang dapat ditangkap dan diindera oleh manusia. Sehingga layak untuk dijadikan sebagai objek dalam melakukan proses berfikir untuk menetapkan  akidah mana yang akan diyakini kebenarannya dan  akidah mana yang tidak layak untuk diimani.

Bahwa dari ketiga unsur tersebut yaitu alam semesta, manusia, dan kehidupan sebagai objek untuk melakukan proses berfikir, dengan segala sifat yang dimilikinya yaitu bersifat lemah, membutuhkan kepada yang lain, dari ketiadaannya menjadi ada kemudian tiada kembali, dengan keteraturannya, menunjukan bahwa ada Allah Swt. yang menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan. Dan Allah Swt. itu wajib satu, dan bersifat wajibul wujud.

Dakwah kepada  akidah yang lurus ini, kemudian disampaikan kepada kafir Quraish dan orang-orang kafir lainnya, dengan memberikan segenap perumpamaan yang sebetulnya bisa mengarahkan pada pembenaran, bahwa Allah Swt. itu harus satu dan wajib satu dan bersifat Maha Pengatur (al-mudabbir).

Demikian yang dilakukan oleh Rasulullah saw, hingga beliau menetapkan bagaimana cara memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, antara lain dengan menetapkan dua hari raya bagi kaum muslimin bagi umat Islam yaitu Idulfitri dan Iduladha sebagai perayaan besar kaum muslimin yang berbeda momennya dengan perayaan hari raya umat lainnya semisal Yahudi dan Nasrani.

Dari contoh dan teladan hidup yang diberikan Baginda Rasulullah Saw, maka jelaslah bahwa mengikuti hari perayaan agama lain apalagi memfasilitasinya, bukanlah perkara yang dibenarkan. Sebab Rasulullah saw tidak pernah mencontohkannya.

Bahkan mengikuti perayaan agama lain adalah perkara yang bisa merusak agama itu sendiri, dan melampaui batas toleransi yang diajarkan Nabi.

Karena itu, perayaan Natal bersama ataupun perayaan Imlek bersama, apalagi dilakukan di Mesjid Istiqlal, yang merupakan tempat ibadah kaum muslimin, adalah perkara yang mengada-ada, tidak ada landasan hukumnya dalam Islam, konsekuensinya perbuatan tersebut tertolak, sebab tidak pernah diajarkan Rasulullah saw.

1 2Laman berikutnya
Back to top button