Perspektif Islam tentang Fenomena Kidulting
Artinya, Islam tidak melarang seseorang bersenang-senang, tetapi mengatur agar hiburan tidak menjadikan seseorang lupa akan amanah hidupnya.
Fenomena kidulting bisa dimaknai sebagai tanda adanya kelelahan jiwa modern akibat tekanan dunia yang materialistik. Namun, solusinya bukan kembali menjadi “anak-anak”, melainkan menemukan makna hidup dalam iman dan amal saleh.
Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menulis dalam Madarij as-Salikin: “Kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya permainan, tetapi pada kuatnya hubungan hati dengan Allah.”
Maka, Islam menawarkan keseimbangan, pada hiburan yang dibolehkan, tetapi tanggung jawab tidak boleh diabaikan. Kedewasaan dalam Islam bukanlah kehilangan keceriaan, melainkan mengelola keceriaan dalam bingkai kesadaran akan amanah hidup.
Fenomena kidulting seharusnya menjadi cermin bagi generasi muda muslim untuk menata ulang orientasi hidup. Dunia boleh dinikmati, tapi jangan sampai melalaikan tugas utama yaitu beribadah, menuntut ilmu, beramal, memikul tanggung jawab sosial dan berislam kaffah.[]
Raihana Muthiah, Praktisi Pendidikan.






