Piala Dunia 2026: Pesta Sepak Bola, Politisasi AS, dan Kontradiksi di Lapangan Hijau
Sepak Bola yang Menyatukan Sekaligus Memecah
Piala Dunia kembali membuktikan kemampuan sepak bola menyatukan manusia dan menghadirkan kegembiraan murni. Bahkan, para pendukung tim yang kalah tetap bernyanyi, bersorak, dan menari demi merayakan indahnya permainan.
Namun, di saat yang sama, turnamen ini juga dimanfaatkan untuk mempertajam perpecahan politik.
Sebagian pendukung Iran menjadi sasaran pelecehan dan yel-yel bernada Islamofobia dari para aktivis anti-pemerintah Iran.
Pemerintah Amerika Serikat juga memberlakukan pembatasan perjalanan yang dianggap sewenang-wenang terhadap tim nasional Iran.
Ketika Iran gagal lolos dari fase grup, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Markwayne Mullin bahkan menyatakan dirinya sangat gembira hingga “mungkin menyanyikan satu atau dua lagu atau bahkan menari kegirangan.”
Padahal, seperti FIFA, Piala Dunia selama ini diklaim sebagai ajang yang bebas dari politik. Namun, seperti dikatakan seorang pendukung Palestina-Amerika di New York kepada Al Jazeera, turnamen kali ini berubah menjadi “sebuah konferensi politik”, dengan Donald Trump tampil sebagai pusat perhatian.
Trump sendiri mengakui bahwa ia menghubungi petinggi FIFA agar hukuman skors terhadap penyerang Amerika Serikat, Florian Balogun, dicabut. Meski demikian, tim Amerika tetap kalah telak 1-4 dari Belgia pada pertandingan berikutnya.
Piala Dunia kali ini juga diwarnai para penonton yang mengibarkan bendera Palestina, sementara sebagian lainnya membawa bendera Israel.
Sentuhan Amerika ala FIFA
Turnamen ini menjadi panggung lahirnya bintang muda Lamine Yamal, yang memperkenalkan dirinya kepada dunia di panggung terbesar sepak bola.
Di sisi lain, pemain veteran seperti Lionel Messi kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka, tampil seolah masih berada di pertengahan usia 20-an.
Kita juga menyaksikan para pemain yang sebelumnya kurang dikenal tampil sebagai pahlawan. Marc Cucurella dan Pedro Porro dari Spanyol memainkan peran penting dalam laga-laga krusial, sementara sejumlah bintang besar, terutama dari Jerman dan Portugal, gagal menunjukkan performa terbaik mereka.






