#Piala Dunia 2026SPORTS

Piala Dunia 2026: Pesta Sepak Bola, Politisasi AS, dan Kontradiksi di Lapangan Hijau

Piala Dunia ini membawa olahraga paling populer di dunia ke sebuah negara yang selama ini menjadi pengecualian karena tidak pernah sepenuhnya memeluk sepak bola sebagai olahraga utama.

Karena itu, FIFA mengizinkan Amerika Serikat memberi sentuhan khasnya terhadap permainan ini.

Mulai dari jeda minum di tengah babak yang dimanfaatkan stasiun televisi untuk menayangkan iklan, cincin juara ala olahraga Amerika, hingga pertunjukan hiburan saat jeda pertandingan—banyak penonton merasa ada upaya meng-Amerikakan sepak bola.

Selama bertahun-tahun para penulis berusaha menjelaskan mengapa sepak bola menjadi olahraga paling universal di dunia. Salah satu jawabannya sederhana: sepak bola mudah dimainkan.

Yang dibutuhkan hanyalah sebuah bola. Siapa pun, di mana pun—kaya atau miskin, tua maupun muda—dapat bermain. Karena dimainkan oleh begitu banyak orang, olahraga ini juga mudah dinikmati.

Namun, Piala Dunia kali ini menunjukkan sisi yang berbeda. Menyaksikan pertandingan secara langsung menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati mereka yang mampu membayarnya.

Harga tiket berkisar dari ratusan hingga ratusan ribu dolar, sehingga banyak penggemar dari kalangan pekerja tidak mampu hadir di stadion.

Bagi banyak warga di kota-kota tuan rumah, Piala Dunia terasa begitu dekat, tetapi sekaligus sangat jauh.

“Saya berharap mereka membantu orang-orang seperti kami—yang benar-benar mencintai sepak bola dan tim kami—agar bisa menyaksikan idola bermain,” kata Juan Cortes, seorang montir di kawasan Los Angeles, kepada Al Jazeera pada awal turnamen.

Stadion Los Angeles yang menjadi lokasi beberapa pertandingan hanya berjarak beberapa kilometer dari bengkelnya.

Namun, ia tidak mampu membeli satu pun tiket pertandingan. “Tidak setiap hari negara saya menjadi tuan rumah Piala Dunia,” ujarnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button