Politisi Muslim Abdul El-Sayed Menangkan Pemilihan Pendahuluan Senat di Michigan
Farah Chalisa, seorang pengacara hak asasi manusia dari Chicago yang orang tuanya berimigrasi dari Pakistan, menyampaikan bahwa sebagian besar perjalanan hidupnya dibayangi oleh sentimen anti-Muslim. Ia masih duduk di kelas dua sekolah dasar saat peristiwa 11 September terjadi.
“Sangat berarti bagi saya sebagai seorang Muslim Amerika melihat seorang pria Muslim berpeluang menjadi senator,” ungkap Chalisa (32).
“Hal itu membuat saya merasa benar-benar memiliki tempat di sini,” lanjutnya.
Pertarungan pada pemilihan umum mendatang diperkirakan menjadi kunci utama bagi peluang Partai Demokrat untuk menguasai Senat.
Komite Senat Nasional Partai Republik pada Rabu merespons cepat dengan menayangkan iklan digital yang melabeli Dr. El-Sayed sebagai “calon senator paling radikal di Amerika.” Iklan tersebut sengaja menyertakan nama lengkapnya, Abdulrahman Mohamed El-Sayed.
Sebelumnya, retorika anti-Muslim juga telah dimanfaatkan oleh kandidat politik di Texas, Tennessee, dan Alabama.
“Ada ketakutan karena kulitnya yang berwarna dan identitasnya sebagai Muslim,” ujar Farah Berent, seorang asisten dokter dari Holland, Michigan, mengenai Dr. El-Sayed, sebelum mengutip ungkapan yang sering disampaikan sang kandidat dalam kampanye.
“Padahal kita semua berdoa untuk hal-hal yang sama,” imbuhnya.
Untuk saat ini, komunitas Muslim Amerika tengah diselimuti suasana penuh kebahagiaan.
“Ini lebih dari sekadar keterwakilan,” tutur Aber Kawas, tokoh sosialis demokratis dari New York yang memenangi primary senat di negaranya tahun ini, lalu melintasi batas negara bagian untuk mendukung Dr. Abdul El-Sayed.
“Ini berkaitan dengan pengalaman hidup dan menyambungkan rasa yang dialami tetangga-tetangganya di Michigan, baik mereka Muslim maupun non-Muslim, yang sama-sama berjuang menghadapi kesulitan ekonomi,” jelas Kawas.
Di sisi lain, Baydoun mengaku tetap menyimpan kecemasan terkait potensi propaganda kebencian yang muncul sebagai respons atas kemenangan Dr. El-Sayed.
“Perasaan ini menjadi manis sekaligus getir karena saya tahu, bahkan jika beliau menang, besok dan lusa akan menjadi ajang perlombaan tentang siapa yang paling bisa mendemonisasi Umat Islam,” tutur Baydoun.
“Saya khawatir tentang dampaknya bagi keluarga dan komunitas saya,” pungkasnya. []
Sumber: nytimes.com






