Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Arah diplomasi Indonesia ke depan
Kementerian Luar Negeri Indonesia telah menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan Lebanon, penghentian serangan terhadap warga sipil, dan kembalinya ke dialog. Seruan ini penting, tetapi tanpa daya paksa hanya akan menjadi bisikan di tengah badai. Indonesia memiliki pengaruh di forum internasional, baik melalui PBB maupun Gerakan Non-Blok.
Sudah saatnya Jakarta menggalang koalisi negara-negara anggota PBB lainnya untuk menekan Israel melalui resolusi Dewan Keamanan yang mengikat, serta mendorong pengadilan internasional untuk memproses serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian sebagai kejahatan perang.
Lebih dari itu, Indonesia perlu mempertimbangkan langkah-langkah diplomatik yang lebih berani, seperti memimpin inisiatif perlindungan bagi pasukan PBB di zona konflik. Jika sistem internasional terus gagal melindungi pengawal perdamaiannya, maka negara-negara pengirim pasukan harus bersuara kolektif—bahkan dengan ancaman penarikan seluruh kontingen dari semua misi PBB. Karena nyawa prajurit tidak boleh menjadi taruhan dalam permainan geopolitik yang kejam.
Tiga prajurit kita telah gugur. Keluarga mereka menangis di tanah air sementara para pemimpin dunia sibuk dengan kalkulasi politik masing-masing. Penghormatan setinggi-tingginya akan diberikan kepada para pahlawan yang gugur, tetapi penghormatan itu tidak bisa mengembalikan nyawa. Kini giliran negara yang membela mereka dengan keberanian yang setara.
Evaluasi total terhadap keikutsertaan dalam UNIFIL, penegasan kembali prinsip bahwa keselamatan prajurit adalah segalanya, serta diplomasi yang tidak lagi sekadar mengutuk tetapi menindak sangatlah penting. Itulah bentuk tanggung jawab nyata kepada para prajurit yang telah mengorbankan nyawa demi perdamaian yang nyatanya terus dikhianati oleh Israel.[]




