OPINI

Presiden Amerika Pertama yang Jujur

Korupsi tanpa malu Donald Trump bukanlah penyimpangan dari sejarah Amerika, melainkan puncak dari sejarah itu sendiri.

Korupsi Trump bukanlah penyakit dalam sistem, melainkan kebenaran sistem itu sendiri yang menjelma dalam sosok manusia.

Yang hancur bukanlah legalitas, melainkan arsitektur batin yang dulu membuat ketidaklegalan terasa menjijikkan. Apa yang dulu dianggap pelanggaran kini dinikmati sebagai kejujuran.

Superego tidak lagi melarang, melainkan memerintahkan kita untuk menikmati pertunjukan kekuasaan telanjang — dan bahkan menikmati keterlibatan kita di dalamnya.

Dalam masyarakat di mana setiap aspek kehidupan tunduk pada logika akumulasi keuntungan — di mana kedokteran, pendidikan, bahkan kepedulian diatur oleh laba — pengungkapan korupsi tidak menghasilkan pembaruan moral kolektif.

Ia hanya menegaskan apa yang semua orang sudah curigai: bahwa tidak ada lagi tatanan etis yang tersisa untuk dipertahankan. Hasilnya adalah kelumpuhan politik.

Kita dapat menamai korupsi, tapi tidak bisa bertindak melawannya — karena itu berarti menghancurkan sistem yang telah diajarkan sebagai satu-satunya yang mungkin ada.

Respons liberal terhadap korupsi pun gagal karena alasan yang sama. Mereka menyeru pada moralitas — kesopanan, keadilan, kejujuran — tanpa menyadari bahwa nilai-nilai itu telah kehilangan makna institusional dan landasan budaya.

Sementara itu, kaum kanan belajar memanfaatkan kehampaan itu. Kejeniusan Trump terletak pada kemampuannya mengubah korupsi menjadi tontonan, membuat ketelanjangannya terasa seperti keaslian, dan kekerasannya seperti kebebasan.

Para pengikutnya sadar — dengan benar — bahwa korupsi merasuki kehidupan elite; yang mereka salah pahami adalah sumbernya. Mereka melihat kemerosotan pada birokrat, bukan miliarder; pada migran, bukan monopoli.

Jika korupsi tidak lagi memicu reaksi bermakna, apalagi pemberontakan rakyat, itu karena — di bawah label “Partai Demokrat” — “perlawanan” telah dikomersialisasi. Kemarahan menjadi gaya hidup, sinisme menjadi tanda kecerdasan.

Kritik dan kecaman politik telah menjadi komoditas, dijual oleh industri budaya — mesin yang mengubah jijik moral menjadi produk, dan slogan tentang tirani menjadi buku terlaris New York Times, bersanding dengan memoar politisi korup.

Ketika politik menjadi hiburan dan kemarahan menjadi estetika korporat, fasisme tak perlu lagi menyamar sebagai kebajikan; cukup menampilkan pertunjukan yang lebih menarik dari lawan-lawannya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button