Presiden Amerika Pertama yang Jujur
Korupsi tanpa malu Donald Trump bukanlah penyimpangan dari sejarah Amerika, melainkan puncak dari sejarah itu sendiri.
Korupsi Trump terus mengamuk tanpa kendali — bukan karena orang tak melihatnya, tetapi karena mereka tak lagi percaya bahwa sesuatu yang lebih baik mungkin ada.
Untuk bisa merasa “terkejut”, seseorang harus masih percaya pada dunia moral yang bisa dilanggar.
Yang kita hadapi kini lebih gelap: masyarakat yang tak lagi percaya pada kemungkinannya untuk ditebus.
Membangun kembali imajinasi etis memerlukan lebih dari sekadar membuka kedok korupsi. Diperlukan pembangunan institusi publik dan sipil yang sungguh-sungguh melayani rakyat pekerja, bukan kepentingan orang kaya, serta investasi pada bentuk perawatan kolektif dan timbal balik yang memberi kehidupan nyata bagi etika demokratis.
Korupsi tumbuh subur di atas reruntuhan solidaritas. Untuk benar-benar menentangnya, kita harus membangun masyarakat di mana kebenaran dan kejujuran bukanlah pertunjukan individu, melainkan tujuan bersama, yang berani menghadapi masa lalu kelam bangsa — dan benar-benar beranjak darinya. []
*Eric Reinhart, Antropolog Politik, Psikiater, dan Klinisi Psikoanalisis.
Sumber: Al Jazeera






