INTERNASIONAL

Presiden Guinea Dikudeta Setelah Ubah Konstitusi dan Menangkan Periode Ketiga

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah telah menaikkan pajak secara drastis untuk mengisi kas negara dan meningkatkan harga bahan bakar sebanyak 20 persen yang menyulut kemarahan di mana-mana.

Hingga Ahad pagi, belum ada kejelasan apakah Doumbouya telah memegang kendali penuh atas pemerintahan.

Video-video yang dibagikan di media sosial sebelumnya memperlihatkan sejumlah kendaraan militer berpatroli di Conakry.

Seorang sumber militer mengatakan satu-satunya jembatan penghubung antara daratan dan kawasan permukiman Kaloum –tempat istana dan kementerian berada — telah ditutup.

Hingga Ahad petang, ketika baku tembak berhenti, warga turun ke jalan-jalan ibu kota untuk merayakan keberhasilan kudeta itu.

Seorang saksi mengaku melihat iring-iringan truk terbuka, mobil tentara, dan sepeda motor yang membunyikan klakson sambil menyoraki warga.

“Guinea bebas! Bravo,” seorang perempuan berteriak dari balkon rumahnya.

Alexis Arieff dari Badan Riset Kongres AS mengatakan meski pemberontakan dan kudeta bukan hal baru di Afrika Barat, kawasan itu telah mengalami “kemunduran besar demokrasi” dalam beberapa tahun terakhir.

Baik Conde maupun pemimpin Pantai Gading telah mempengaruhi parlemen untuk memperpanjang masa jabatan mereka, sementara Mali pernah menghadapi dua kudeta militer dan Chad sekali.

Guinea sudah mengalami kesinambungan pertumbuhan ekonomi selama satu dekade pemerintahan Conde berkat kekayaan bauksit, bijih besi, emas dan berlian mereka. Namun baru sedikit penduduknya yang merasakan manfaat dari kekayaan alam itu.

Kritikus mengatakan pemerintah Conde telah menerapkan undang-undang kriminal yang restriktif untuk mencegah perbedaan pendapat, sementara kelompok-kelompok etnis dan korupsi yang merajalela telah memperuncing persaingan politik.

“Sementara presiden menyatakan di mana-mana bahwa dia ingin memerintah secara berbeda dengan memberantas korupsi, penggelapan uang rakyat tetap meningkat. Orang kaya baru sedang mengejek kita,” kata Alassane Diallo, warga Conakry.

“Itu semua yang membuatnya lebih mudah bagi militer.”

Sumber: Reuters

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button