SAKINAH

Quiet Quitting: Ketika Bekerja Tak Lagi Jadi Pusat Hidup

Quiet quitting bukan gerakan untuk berhenti bekerja. Ia lebih menyerupai refleksi kolektif tentang hubungan manusia dengan pekerjaannya.

Kerumunan itu bergerak serempak menuruni tangga stasiun. Tubuh-tubuh berdesakan, langkah tergesa, wajah-wajah yang tampak lelah tapi terbiasa. Tidak ada yang benar-benar menonjol. Semua bergerak dalam ritme yang sama, seperti roda kecil dalam mesin besar yang terus berputar. Pemandangan seperti ini menjadi potret keseharian pekerja urban—rutinitas berangkat pagi, pulang malam, menukar waktu dengan penghasilan, menukar tenaga dengan stabilitas yang kadang terasa semu.

Di tengah lanskap kehidupan kerja seperti itulah istilah quiet quitting muncul dan perlahan menggema. Istilah ini sering disalahpahami sebagai pengunduran diri diam-diam. Padahal yang terjadi justru kebalikannya. Para pekerja tetap menjalankan tanggung jawab, tetap hadir, tetap profesional. Mereka hanya berhenti memberikan energi lebih dari yang diwajibkan. Tidak lagi lembur tanpa kompensasi. Tidak lagi mengejar promosi yang mengorbankan kesehatan mental dan waktu pribadi. Mereka bekerja sesuai kontrak, lalu pulang—mengembalikan hidup ke ruang yang lebih luas daripada sekadar kantor.

Fenomena ini pertama kali mencuat di Amerika Serikat pada 2022, ketika pandemi memaksa banyak orang meninjau ulang makna pekerjaan. Namun gaungnya cepat melintasi batas negara. Jepang, yang selama puluhan tahun dikenal dengan etos kerja keras dan loyalitas tinggi terhadap perusahaan, ikut merasakannya. Survei Mynavi menunjukkan sekitar 45 persen pekerja Jepang, terutama generasi muda, memilih menyelesaikan pekerjaan hanya pada tingkat minimum yang dituntut. Jabatan tinggi tidak lagi menjadi tujuan utama jika harus dibayar dengan waktu pribadi yang hilang.

Lelah yang Tak Terucapkan

Quiet quitting lahir dari kelelahan yang terakumulasi. Banyak pekerja merasa pengorbanan mereka tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima. Gaji stagnan, beban kerja meningkat, dan apresiasi yang minim membuat pekerjaan kehilangan makna emosional. Di Jepang, situasi ini diperparah oleh runtuhnya jaminan kerja seumur hidup, pemangkasan tunjangan, serta bonus yang semakin tidak pasti. Loyalitas yang dulu menjadi kebanggaan perlahan bergeser menjadi relasi transaksional.

Profesor Izumi Tsuji dari Universitas Tokyo menilai fenomena ini bukan bentuk kemalasan, melainkan respons rasional terhadap sistem kerja yang terlalu menekan. Generasi muda, kata dia, lebih realistis dalam menilai hubungan antara pengorbanan dan imbalan. Mereka tidak berhenti bekerja. Mereka hanya berhenti mengorbankan diri secara berlebihan. Tidak ada sabotase pekerjaan, tidak ada pelanggaran profesionalitas. Yang berubah hanyalah keberanian menetapkan batas.

Kerumunan dan Metafora Dunia Kerja

Gambaran pekerja yang berdesakan di stasiun sesungguhnya menjadi metafora kuat bagi sistem kerja modern. Di dalam kerumunan itu, individu sering kehilangan ruang untuk bernapas. Waktu habis di perjalanan, energi terkuras di kantor, dan kehidupan pribadi tersisa dalam sisa-sisa jam yang sempit. Quiet quitting muncul sebagai bentuk penolakan halus terhadap kondisi tersebut. Ia seperti bisikan kolektif yang mengatakan bahwa hidup tidak seharusnya dihabiskan hanya untuk mengikuti arus.

Istilah populer di kalangan pekerja muda Indonesia—kerja teng go—mencerminkan sikap baru itu. Datang tepat waktu, pulang tepat waktu. Tidak ada lagi glorifikasi lembur tanpa bayaran yang sering disindir sebagai lembur “thank you”—lembur yang hanya dibalas ucapan terima kasih tanpa penghargaan nyata. Ungkapan itu terdengar ringan, tetapi menyimpan kritik terhadap budaya kerja yang menormalisasi pengorbanan tanpa kompensasi.

Menarik Garis, Bukan Menyerah

Mereka yang melakukan quiet quitting tidak meninggalkan pekerjaan. Mereka hanya memilih tidak lagi menyalurkan energi berlebih pada sistem yang tidak memberi makna setimpal. Dalam konteks ini, quiet quitting dapat dibaca sebagai mekanisme perlindungan diri.

Penelitian Gallup menunjukkan hanya sekitar 15 persen pekerja di dunia yang benar-benar terlibat secara aktif dalam pekerjaannya. Sebagian besar lainnya bekerja karena kewajiban, bukan keterikatan emosional. Quiet quitting tumbuh dari kelompok ini—mereka yang lelah, tetapi belum menyerah.

Gaung yang Mulai Terasa di Indonesia

Indonesia mungkin belum memiliki survei nasional khusus mengenai quiet quitting. Namun tanda-tandanya mulai terlihat jelas. Di media sosial, narasi “kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja” semakin populer. Generasi muda, terutama Gen Z, lebih berani menolak komunikasi pekerjaan di luar jam kerja dan mempertanyakan kembali definisi sukses.

Laporan Jobstreet Indonesia 2024 menunjukkan sekitar 43 persen pencari kerja Gen Z menempatkan fleksibilitas dan keseimbangan hidup-kerja di atas gaji besar. Pilihan ini sering disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal, yang mereka cari adalah kehidupan yang lebih utuh—ruang untuk berkembang di luar identitas profesional.

1 2Laman berikutnya
Back to top button