EKBIS

Saat Gen Z Bertemu Realitas yang Pincang

Tak ada pembangunan yang kokoh tanpa fondasi ketenagakerjaan yang kuat. Sayangnya, Indonesia masih menapaki jalan yang rapuh, penuh kerikil ketidakpastian. Dominasi sektor informal, ketimpangan keterampilan, dan ledakan angkatan kerja muda kini menyatu dalam sebuah krisis struktural yang, jika diabaikan, bisa menjadi bom waktu sosial yang siap meledak di tengah ibu kota dan daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 mengungkap ironi yang menusuk: dari 142,18 juta penduduk bekerja, hanya 40 persen yang berada di sektor formal. Sisanya tersebar di sektor informal—mereka yang bekerja tanpa kontrak, tanpa perlindungan sosial, dan sering kali tanpa kepastian upah.

Struktur ini adalah gambaran fondasi rumah di atas pasir, mudah goyah oleh guncangan ekonomi sekecil apapun. Mereka adalah barisan pekerja rentan yang nasibnya tergantung pada belas kasihan pasar harian.

Frustrasi Gen Z dan Jurang Keterampilan

Kondisi makin pelik ketika Generasi Z—yang diperkirakan mendominasi 27 persen angkatan kerja tahun ini—berhadapan dengan realitas dunia kerja yang tak ramah. Sekitar 9,9 juta dari mereka diproyeksikan menganggur. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan wajah-wajah muda yang tercekik oleh harapan palsu.

Ambil contoh Risa, 23 tahun, lulusan cum laude jurusan Pemasaran Digital dari salah satu universitas terkemuka di Yogyakarta. Setelah tujuh bulan melamar, ia hanya menerima panggilan wawancara dari perusahaan rintisan yang menawarkan gaji jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) dengan tuntutan kerja 12 jam sehari.

“Saya kira ijazah dan sertifikat bootcamp cukup,” keluh Risa. “Ternyata mereka lebih cari orang yang bisa mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus dengan upah satu orang. Di CV, saya fasih membuat konten TikTok, tapi yang mereka butuh justru kemampuan mengelola anggaran yang tak pernah diajarkan di kampus.”

Kasus Risa mencerminkan jurang lebar antara keterampilan yang dimiliki lulusan baru dan kebutuhan riil pasar. Pendidikan tinggi tak selalu berbanding lurus dengan kesiapan kerja.

Di banyak tempat, lulusan baru memang lebih fasih membuat konten ketimbang menyusun laporan kerja atau menguasai perangkat lunak teknis yang kompleks. Kualitas pendidikan vokasi yang seharusnya menjadi solusi pun masih ala kadarnya, berjalan lamban, dan seringkali gagal terkoneksi dengan industri yang bergerak cepat.

Ancaman Otomatisasi dan Investasi Padat Modal

Selain masalah SDM, transformasi digital dan otomatisasi industri telah memperkeruh keadaan. Di lantai pabrik dan kantor, robot dan kecerdasan buatan mulai menggantikan posisi manusia.

Ketika investasi yang masuk ke Tanah Air lebih menyasar pada sektor padat modal (investasi yang mengandalkan mesin dan teknologi canggih), penciptaan lapangan kerja kian minim. Nilai Rp1 triliun investasi kini hanya menghasilkan sekitar 1.200 pekerjaan. Angka ini jauh menyusut dibandingkan satu dekade lalu yang bisa menciptakan lebih dari 4.500 pekerjaan dengan modal yang sama.

Bagi pengusaha, kalkulasinya jelas: mesin lebih murah, lebih efisien, dan lebih patuh dari manusia. Sebuah sinyal bahaya bagi negara dengan bonus demografi yang berlimpah.

1 2Laman berikutnya
Back to top button