Rakyat Amerika Sudah Muak dengan Perang tanpa Akhir
Perang AS–Israel melawan Iran adalah ilegal dan bertentangan dengan kepentingan rakyat Amerika.
Oleh: Hussam Ayloush, CEO Council on American-Islamic Relations (CAIR) California
Amerika Serikat sekali lagi telah diseret ke dalam perang yang menghancurkan di Timur Tengah. Militer AS kini menyerang Iran bukan karena negara kita menghadapi ancaman yang segera, tetapi karena pemerintah Israel sejak lama menginginkan konfrontasi dengan Teheran dan akhirnya menemukan mitra yang bersedia di Washington.
Perang ini tidak perlu, tidak memiliki dasar pembenaran, tidak konstitusional, melanggar hukum internasional, dan sepenuhnya bertentangan dengan kehendak rakyat Amerika.
Menurut konstitusi, kekuasaan untuk menyatakan perang berada di tangan Kongres, bukan presiden. Karena itu, keputusan Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan udara dan mengejar perubahan rezim di negara lain tanpa otorisasi Kongres adalah ilegal. Ini mengingatkan pada bab-bab tergelap kebijakan luar negeri Amerika setelah September 11 attacks, ketika ketakutan dan penipuan digunakan untuk menyeret negara kita ke dalam perang-perang yang berujung bencana—yang harganya masih kita bayar hingga hari ini.
Dalam skala global, menyerang negara berdaulat—atau seperti yang disebut oleh Perdana Menteri Israel yang menjadi buronan kejahatan perang Benjamin Netanyahu, sebagai “serangan pendahuluan”—tanpa ancaman yang segera melanggar United Nations Charter dan prinsip-prinsip dasar hukum internasional. Kampanye pengeboman ini—yang berlangsung selama bulan suci Islam Ramadan, waktu peningkatan spiritualitas dan refleksi—telah menodai nurani nasional kita.
Pada hari pertama perang, serangan udara AS menewaskan sekitar 165 siswi sekolah di kota Minab. Senjata Amerika sekali lagi membuat kita turut terlibat dalam pembunuhan anak-anak di luar negeri.
Dan untuk apa?
Kita diberi tahu bahwa ini tentang “keamanan”. Kita diberi tahu ini untuk menghentikan ambisi nuklir Iran. Tetapi kita pernah mendengar ini sebelumnya. Selama lebih dari 30 tahun, Netanyahu bersikeras bahwa Iran “hanya beberapa minggu lagi” dari bom nuklir. Minggu-minggu itu berubah menjadi puluhan tahun. Ketakutan didaur ulang menjadi kebijakan.
Mari kita juga jujur tentang hal lain: Iran, dengan segala ambisi regionalnya yang dapat dipersoalkan dan sering merugikan, bukanlah ancaman militer yang segera bagi Amerika Serikat. Publik Amerika memahami hal ini. Survei demi survei menunjukkan rakyat Amerika lelah dengan perang tanpa akhir di Timur Tengah. Komunitas kita menginginkan investasi dalam layanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja—bukan konflik bernilai triliunan dolar lagi yang mengirim tentara kita ke medan bahaya dan mengguncang wilayah lain.
Jadi mengapa seorang presiden Amerika yang berkampanye dengan slogan “America First” memerintah seolah menganut “Israel First”? Mengapa pasukan Amerika, uang pajak Amerika, dan kredibilitas Amerika dipertaruhkan untuk memenuhi ambisi lama pemerintah asing?
Ini bukan aliansi yang sehat. Ini adalah dinamika yang beracun di mana Amerika Serikat menyediakan uang, senjata, perlindungan diplomatik, dan dukungan politik tanpa syarat, sambil diseret ke perang-perang yang justru membuat kita kurang aman.
Kita diberi tahu bahwa perang ini tentang hak asasi manusia. Tentang hak perempuan. Tetapi bom tidak membebaskan rakyat. Serangan udara tidak memajukan demokrasi. Membantai siswi sekolah bukanlah kebijakan luar negeri yang “feminis”.
Jika hak asasi manusia benar-benar menjadi perhatian, pemerintah kita tidak akan menerapkannya secara selektif berdasarkan kenyamanan geopolitik. Sekutu kita sendiri, Israel, sedang terlibat dalam genosida yang telah menewaskan dan melukai lebih dari 200.000 warga Palestina—kebanyakan warga sipil. Menghentikan pendanaan terhadap pembunuhan massal anak-anak itu seharusnya menjadi awal yang baik bagi kepedulian kemanusiaan kita.
Dan rakyat Amerika berhak mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Pada saat transparansi dan akuntabilitas dituntut di dalam negeri—terutama terkait pembukaan berkas Jeffrey Epstein—mengapa kita justru didorong masuk ke perang luar negeri yang lain? Rakyat Amerika berhak mendapatkan kejujuran, bukan pengalihan perhatian.






