OPINI

Rakyat Suriah Tidak Boleh Dikecewakan Lagi

Menstabilkan Suriah berarti menstabilkan perekonomiannya. Negara ini sangat membutuhkan dukungan internasional dan iklim investasi yang lebih aman.

Sebagai seseorang yang telah mengabdikan hidup untuk dialog dan negosiasi, saya merasakan kepahitan karena harus mengakui bahwa yang dibutuhkan ternyata bukan pembicaraan, melainkan tindakan. Dan tindakan itu seharusnya dilakukan jauh lebih awal.

Kini saya memahami bahwa dosa awal masyarakat internasional adalah mengesampingkan perubahan rezim sejak awal sebagai jalan untuk mengakhiri penderitaan Suriah.

Sebaliknya, dunia membentuk kelompok “Friends of Syria”—yang terdiri dari negara-negara Barat dan sekutu-sekutu regional—untuk mendukung oposisi terhadap al-Assad. Namun, kelompok itu hampir tidak memberikan perubahan berarti terhadap kenyataan sehari-hari berupa penahanan massal dan kematian yang menimpa hampir setiap keluarga Suriah.

Kebohongan terus berlangsung sepanjang masa penderitaan Suriah. Perang kini telah berakhir.

Yang tersisa sekarang adalah membangun perdamaian.

Namun, seperti yang terlihat dari rangkaian pengeboman baru-baru ini di Damaskus, tidak sedikit pihak yang ingin melihat Suriah kembali gagal.

Prioritas utama saat ini adalah membangun kembali perekonomian.

Tahun demi tahun, akibat gabungan perang, sanksi ekonomi, dan kehancuran ekonomi nasional, rakyat Suriah terus jatuh ke dalam kemiskinan. Kini, dua pertiga penduduk hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Padahal, Suriah adalah negara yang memiliki sumber daya manusia berbakat dan posisi strategis yang sangat penting bagi negara-negara tetangganya.

Bantuan kemanusiaan memang terus berdatangan, tetapi seperti di banyak tempat lain, jumlahnya sangat terbatas.

Negara-negara Teluk dan anggota Uni Eropa masih terus memberikan bantuan. Namun, dari pengalaman saya dalam dunia kemanusiaan, saya mengetahui bahwa solusi yang benar-benar berkelanjutan bagi krisis Suriah harus datang melalui investasi swasta dalam perekonomian.

Baik di sektor perbankan, energi, konstruksi, pengolahan pangan, agribisnis, maupun industri manufaktur ringan, Suriah memiliki potensi pertumbuhan yang luar biasa.

Modal dari warga Suriah di luar negeri dapat menjadi motor awal pemulihan. Namun, negara ini tetap membutuhkan investasi global dalam jumlah besar beserta dukungan teknis dari komunitas internasional.

Masih ada dua persoalan besar yang harus diselesaikan.

Pertama, pencabutan sanksi-sanksi yang masih tersisa—yang seharusnya sudah lama dilakukan—karena sanksi tersebut tetap menjadi ancaman bagi pembangunan perdamaian.

Kedua, pengelolaan risiko bagi para investor.

Pengumuman terbaru Amerika Serikat yang akan mencabut status Suriah sebagai “negara sponsor terorisme” merupakan langkah besar dalam menyelesaikan persoalan pertama.

Namun, tantangan kedua masih sangat besar.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button