MUHASABAH

Refleksi Maulid di Tengah Budaya ‘Scroll’: Saat Snouck Membaca Nabi, Apa yang Kita Baca?

Michael Hart dan Peringkat Pertama

Snouck bukan satu-satunya tokoh luar tradisi Islam yang mempelajari sosok Rasulullah saw. secara serius. Beberapa dekade kemudian, penulis Amerika, Michael H. Hart, menerbitkan buku tersohor berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.

Dalam karyanya tersebut, Hart menempatkan Nabi Muhammad saw. pada urutan pertama dari seratus tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

Hart tidak sedang menulis buku syiar Maulid ataupun menguji keimanan umat Islam. Ia menggunakan tolok ukur historis mengenai sejauh mana pengaruh seorang tokoh dalam mengubah peradaban dunia.

Tentu umat Islam tidak memerlukan legitimasi Michael Hart untuk meyakini kemuliaan Rasulullah saw. Namun, penilaian objektif dari seorang penulis non-Muslim tersebut sangat menarik untuk direnungkan.

Seorang ilmuwan Barat terdorong membaca sirah untuk memahami bagaimana seorang manusia dari Makkah mampu mengubah tatanan dunia. Sementara kita yang menyebut namanya setiap kali salat, sudah berapa halaman sirah yang kita tuntaskan?

Pertanyaan ini bukan untuk membandingkan kadar keimanan, melainkan menjadi cermin introspeksi. Sudah seberapa serius kita mengenal manusia terbaik yang kita jadikan teladan hidup?

Mengenal Nabi Secara Utuh, Bukan Potongan

Permasalahan utama umat hari ini bukanlah tidak mengenal Rasulullah saw. sama sekali. Kita tahu beliau lahir di Makkah, menerima wahyu, berdakwah, hijrah, dan memimpin masyarakat Madinah.

Namun, mengetahui rangkaian peristiwa sejarah berbeda dengan memahami hakikat kehidupan beliau. Kita sering kali mengenal Nabi Muhammad saw. hanya dari label sifat umum, seperti pemaaf, sabar, dan adil.

Sifat-sifat mulia tersebut membutuhkan konteks nyata agar dapat dipahami dan diteladani. Melalui sirah, kita melihat bahwa kesabaran dan kelembutan beliau diuji oleh berbagai peristiwa berat dalam kehidupan nyata.

Sirah Nabawiyah membuat kita memahami alasan dan cara Rasulullah saw. mengambil keputusan. Dengan begitu, keteladanan beliau menjadi lebih dekat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perlawanan Sirah terhadap Budaya Scroll

Tantangan terbesar era modern adalah dominasi budaya scroll di media sosial. Algoritma media digital membiasakan pikiran kita menerima informasi yang serba pendek, cepat, dan dangkal.

Layar ponsel membuat jempol bergerak lebih cepat daripada proses berpikir. Kita sering kali tergiur dengan konten ringkas seperti “Kisah Nabi dalam Lima Menit” dan merasa puas dengan potongan tersebut.

Video singkat boleh saja menjadi sarana perkenalan awal. Namun, berbahaya jika potongan konten dianggap sudah mewakili keseluruhan bangunan ilmu sirah.

Membaca kitab sirah secara tekun merupakan bentuk latihan spiritual untuk melawan budaya scroll. Melalui tradisi membaca, kita diajak berhenti sejenak, merenung, dan memahami konteks sejarah secara utuh.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button