NUIM HIDAYAT

Bagaimana Menggiatkan Dunia Baca Tulis di Tanah Air?

Berdasarkan survei-survei internasional, tingkat literasi kita masih rendah. Dalam survey World’s Most Literate Nations (WMLN) yang dilaksanakan Central Connecticut State University (2016), Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Pringkat atas ditempati Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia.

UNESCO juga pernah melakukan survei literasi untuk menilai partisipasi membaca, jumlah koleksi perpustakaan, ketersediaan buku, dan aktivitas literasi rutin. Dalam survei itu, Indonesia termasuk kategori “low engagement reading country”. Rata-rata waktu membaca orang Indonesia menurut beberapa survei nasional sekitar 15–20 menit per hari, jauh di bawah standar negara maju.

Dalam survei PISA (Programme for International Student Assessment) 2022, untuk menilai kemampuan membaca siswa berusia 15 tahun, Indonesia berada di peringkat 71 dari 81 negara. Skor Reading Indonesia: 371 (rata-rata OECD, OECD, Organisation for Economic Co-operation and Developmentsekitar 476). Lihatlah perbandingan negara-negara dalam skor PISA ini:

  • Jepang: 516
  • Korea Selatan: 515
  • Kanada: 516
  • Singapura (peringkat 1): 543
  • Malaysia: 388
  • Thailand: 372
  • Indonesia: 371
  • Filipina: 347

Sedangkan dalam survey membaca harian, diperoleh data:

  • Jepang: 1–2 jam per hari
  • Jerman: 1 jam per hari
  • Korea Selatan: 45–60 menit
  • Amerika Serikat: 25 menit
  • Indonesia: 15–20 menit (beragam survei Kemdikbud, BPS, dan non-pemerintah)

Waktu membaca Indonesia sangat rendah, terutama ketika dibandingkan dengan negara Skandinavia yang rata-rata membaca lebih dari dua jam per minggu (di luar waktu sekolah).

Ada juga survei untuk rasio buku per orang. Jepang menempati sebagai negara tertinggi untuk pemilikan buku:

  • Jepang: 20–30 buku per orang per tahun
  • Korea: 10–12 buku per orang per tahun
  • Eropa Barat: 15–20 buku
  • Indonesia: 0,001 buku per orang (data Ikapi beberapa tahun terakhir)

Budaya membaca buku yang rendah ini dikeluhkan banyak pihak. “Indonesia harus berpindah dari literasi sebagai kemampuan dasar ke literasi sebagai budaya,” kata Darmaningtyas, pemerhati pendidikan, dalam sebuah diskusi literasi di Yogyakarta. “Tanpa perubahan budaya, indeks hanya jadi angka kosmetik.”

Fakta berikut mungkin yang paling menentukan masa depan literasi Indonesia: 83% masyarakat lebih sering membaca melalui smartphone, menurut survei 2023. Hanya 12% yang membaca buku cetak.

Dalam konteks dunia modern, data ini tidak serta merta buruk. Masalahnya bukan perangkatnya, tetapi isi yang dikonsumsi. Pengguna internet Indonesia, menurut We Are Social, menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari untuk media sosial—tiga kali lipat durasi membaca buku dalam sebulan bagi sebagian orang.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button