Refleksi Maulid di Tengah Budaya ‘Scroll’: Saat Snouck Membaca Nabi, Apa yang Kita Baca?
Maulid dan Reaktualisasi Tradisi Membaca
Sudah saatnya peringatan Maulid tidak hanya diisi dengan seremonial semata. Momen mulia ini harus dijadikan pijakan untuk menghidupkan kembali tradisi literasi sirah di tengah masyarakat.
Masjid dan lembaga pendidikan Islam dapat memelopori gerakan membaca kitab-kitab sirah. Di lingkungan keluarga, buku sirah sepatutnya mendapat tempat utama untuk dibaca dan didiskusikan bersama.
Membaca sirah secara konsisten merupakan wujud kesungguhan cinta kepada Rasulullah saw. Kita sering menghabiskan waktu berjam-jam membaca biografi tokoh dunia, namun sering alpa membaca sejarah hidup nabi kita sendiri.
Dari Membaca Menuju Keteladanan Nyata
Membaca sirah bukan sekadar menambah wawasan sejarah di dalam kepala. Literasi sirah berfungsi mengubah cara pandang dan perilaku kita dalam menghadapi realitas kehidupan.
Melalui sirah, kita belajar bagaimana Rasulullah saw. memperlakukan orang lain, mengelola kekuasaan, merespons kezaliman, serta mendidik generasi muda. Sirah menjadi cermin pembanding bagi kualitas akhlak kita hari ini.
Kebutuhan terbesar dari peringatan Maulid adalah evaluasi diri pascamengenal Rasulullah saw. Cinta sejati tidak hanya tumbuh dari ucapan nama, tetapi lahir dari kesungguhan untuk mengenal sosok yang dicintai.
Saat tokoh non-Muslim membaca sirah untuk memahami sejarah, umat Islam memiliki alasan yang jauh lebih fundamental. Kita membaca perjalanan hidup Rasulullah saw. agar memiliki panduan yang benar dalam mengarungi kehidupan.
Hadiah terbaik pada peringatan Maulid tahun ini bukanlah sekadar kemeriahan acara. Hadiah terbaik itu adalah ketika kita mau mengambil kitab sirah, membuka halaman pertamanya, dan mulai membaca dengan tekun.[]






