PARENTING

Relasi Pendidikan Keluarga dan Sekolah [Bagian 1]

Melalui dua kalimat syahadat (syahadatain), umat Islam diajarkan bahwa hakikat diri manusia adalah sebagai hamba Allah SWT, dan tujuan penciptaannya adalah untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu, Allah SWT mengutus Rasul-Nya, Nabi Muhammad Saw, untuk membimbing umat manusia dalam melaksanakan ibadah dengan benar, agar ibadah tersebut diterima di sisi Allah.

Menurut Sayyid Quthb ibadah tidak terbatas pada ritual semata, melainkan mencakup seluruh tujuan dan tugas utama manusia di dunia, termasuk perannya sebagai khalifah. Menurut beliau, ibadah memiliki dua makna penting: Pertama, ibadah adalah pengakuan akan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan manusia sebagai hamba-Nya. Kedua, ibadah berarti mengarahkan seluruh aktivitas hidup—mulai dari tindakan, pikiran, hingga cita-cita—hanya kepada Allah SWT.

Ulama membagi ibadah menjadi dua, yaitu: ibadah maḥḍah (murni/ritual) dan ibadah ghair maḥḍah. Ibadah maḥḍah adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar, atau waktunya. Seperti, salat, zakat, puasa, dan haji. Adapun ibadah ghair maḥḍah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia, mencakup fisik dan jiwa, yang dilaksanakan demi karena Allah SWT.

Dengan demikian, ibadah tidak hanya terbatas pada aspek ritual semata (salat, zakat, puasa, dan haji), namun mencakup seluruh aktivitas positif yang tidak bertentangan dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, yang dilaksanakan karena Allah SWT

Perintah Al-Quran Terkait Pendidikan Keluarga

Allah SWT berfirman dalam surah At-Taḥrīm, ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ayat ini menjelaskan bahwa pendidikan dan dakwah harus bermula dari rumah. Tanggung jawab seorang mukmin terhadap dirinya dan keluarganya adalah tanggung jawab yang berat. Neraka benar-benar ada dan ancamannya nyata bagi siapa saja yang lalai. Maka ia wajib melindungi dirinya dan keluarganya dari neraka yang menanti itu.

Upaya melindungi diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan melaksanakan takwa kepada Allah SWT. Bertakwa kepada Allah adalah dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semua itu diatur sedemikian rupa dalam bentuk undang-undang yang disebut Syariat Islam.

Untuk mengetahui apa saja yang Allah SWT perintahkan dan yang Dia larang, dibutuhkan suatu proses pengajaran. Namun, pengajaran saja tidaklah cukup. Nilai-nilai yang diajarkan perlu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, selain pengajaran, diperlukan pula pendidikan—yakni proses pembinaan yang mengarahkan peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah SWT.

Proses pendidikan yang mengarahkan peserta didiknya agar menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah adalah definisi pendidikan Islam. Ishaq Farhan, sebagaimana dikutip oleh ‘Āṭif As-Sayyid dalam bukunya, At-Tarbiyah Al-Islāmiyyah Uṣūluhā wa Manhajuhā wa Mu‘allimuhā, mengemukakan dua tujuan pendidikan Islam, yaitu: tujuan tertinggi dan tujuan sekunder. Tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mewujudkan individu yang beriman, yang bertakwa kepada Allah serta menjalankan ibadahnya dengan baik, agar ia berhasil di akhirat dan bahagia di dunia.

Sementara itu, tujuan sekunder pendidikan Islam dapat dirangkum sebagai pembinaan individu yang baik dalam dirinya sendiri, pembinaan warga negara yang baik dalam keluarga muslim dan masyarakat Islam, serta pembinaan manusia yang baik dalam masyarakat global.

Bagaimanapun, masyarakat yang baik terbentuk dari individu-individu yang baik. Oleh karena itu, tujuan sekunder pendidikan Islam hanya dapat tercapai apabila tujuan tertingginya terlebih dahulu terwujud.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button