MUHASABAH

Riwayat Luka di Tanah Andalas

Mesin Pendingin yang Rusak

Salah satu potret paling getir dari deforestasi ini adalah hilangnya fungsi ekosistem sebagai penyangga iklim mikro. Hutan hujan tropis Sumatra adalah salah satu yang terkaya di jagat raya. Ia bekerja sebagai mesin pendingin alami dan penentu stabilitas hidrologi.

Ketika sistem yang rumit dan cerdas itu dirusak demi kebun-kebun monokultur, yang runtuh bukan sekadar pepohonan, melainkan logika keseimbangan antara manusia dan alam. Tanah-tanah di perbukitan yang kehilangan pegangan akar menjadi labil, siap meluncur kapan saja ketika dijatuhi beban air hujan yang kian ekstrem akibat perubahan iklim global.

Menyelesaikan krisis ini tentu tak cukup dengan sekadar normalisasi sungai atau pembangunan tanggul-tanggul raksasa yang menelan biaya triliunan rupiah. Langkah-langkah teknis semacam itu hanyalah menambal gejala, bukan menyembuhkan penyakitnya.

Tanpa pemulihan hutan di daerah tangkapan air yang radikal, tanpa penegakan hukum yang berwibawa terhadap para perusak lingkungan, dan tanpa koreksi total terhadap model pembangunan yang rakus lahan, Sumatera akan terus terperangkap dalam lingkaran setan bencana. Pemerintah perlu berhenti memandang hutan semata-mata sebagai cadangan lahan untuk investasi atau komoditas dagangan.

Infrastruktur Hijau yang Terlupakan

Hutan harus diposisikan sebagai infrastruktur ekologis yang vital—tak kalah penting dan mahalnya dibandingkan jalan tol atau bendungan. Merusak hutan demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi jangka pendek sama saja dengan menggerogoti pondasi rumah sendiri demi mendapatkan kayu bakar.

Deforestasi di Sumatra telah mengubah peta bencana secara permanen. Yang dulu dianggap siklus musiman, kini menjadi kejadian tahunan; yang dulu skalanya lokal, kini meluas lintas kabupaten.

Alam telah berkali-kali memberikan peringatan dengan bahasa yang kian keras dan mematikan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita tahu penyebabnya, melainkan apakah kita memiliki nyali untuk berhenti berpura-pura tidak tahu.

Kita sering kali terjebak dalam retorika “pembangunan demi kesejahteraan”. Namun, kesejahteraan macam apa yang bisa dinikmati jika setiap tahun rakyat harus mengungsi karena rumahnya terendam lumpur? Kesejahteraan macam apa yang didapat jika sawah-sawah tertimbun longsoran tanah dari bukit yang gundul?

Kenyataannya, keuntungan dari eksploitasi hutan sering kali hanya dinikmati oleh segelintir elite dan korporasi, sementara beban bencananya ditanggung oleh rakyat jelata yang tak punya pilihan selain bertahan di tanah yang kian rapuh.

Menagih Janji Pemulihan

Sumatra kini berada di persimpangan jalan. Jika laju penebangan hutan terus dibiarkan tanpa kendali, dan krisis ekologis ini hanya ditanggapi dengan retorika kosong, maka pulau ini tak hanya akan kehilangan hijaunya pepohonan, tetapi juga kehilangan masa depannya.

Generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal hutan Sumatera lewat foto-foto usang di buku sejarah, sementara mereka sendiri harus hidup dalam ketakutan setiap kali langit mulai mendung dan guntur menggelegar. Padatnya penduduk di hilir yang tak diimbangi dengan perlindungan kawasan hulu adalah bom waktu yang sedang berdetak kencang.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button