MUHASABAH

Riwayat Luka di Tanah Andalas

Bencana yang datang silih berganti ini adalah konsekuensi logis dari pilihan-pilihan kita hari ini. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik kata “musibah” untuk menutupi kegagalan pengelolaan lingkungan.

Setiap pohon yang ditebang di hulu adalah ancaman bagi nyawa di hilir. Alam telah menunjukkan batas toleransinya. Dan ketika bencana berikutnya datang—seperti yang hampir pasti akan terjadi dalam waktu dekat—kita harus jujur mengakui bahwa itu adalah hasil dari keserakahan yang kita biarkan tumbuh subur di atas tanah Andalas yang kian malang ini.

Titik Nadir Tanah Andalas

Jika tak ada langkah berani untuk melakukan moratorium total dan restorasi hutan secara masif, Sumatera akan terus hidup di bawah bayang-bayang bencana, menunggu waktu hingga alam benar-benar mencapai titik nadirnya. Kita butuh lebih dari sekadar pidato politik atau seremoni penanaman pohon yang serba artifisial. Kita butuh pengakuan bahwa model ekonomi kita saat ini sedang membunuh kita secara perlahan.

Pada akhirnya, keselamatan Sumatra adalah ujian bagi kemanusiaan kita. Bisakah kita berhenti mengeruk keuntungan dari kehancuran?

Ataukah kita akan membiarkan anak cucu kita mewarisi tanah yang subur hanya dalam ingatan, namun gersang dan mematikan dalam kenyataan?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak tertulis di atas kertas kontrak konsesi, melainkan di kedalaman hutan-hutan kita yang masih tersisa. Segera selamatkan hulu, atau hilir akan selamanya menjadi kuburan bagi harapan.[]

*Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button