SIRAH NABAWIYAH

Saat Kekuatan Muslim Centang Perenang

Anas bin an-Nadhr melewati orang-orang Muslim yang telah meletakkan tangannya itu seraya bertanya, “Apa yang kalian tunggu?.” Mereka menjawab, “Rasulullah Saw terbunuh.”

“Apa yang kalian perbuat dengan kehidupan sepeninggalanya? Bangkitlah dan matilah seperti Rasulullah,“ kata Anas. Lalu dia berkata lagi, ”Ya Allah sesungguhnya aku meminta ampunan kepada-Mu dari apa yang mereka (orang-orang musyrik) lakukan.”

Kemudian dia berpapasan dengan Saad bin Mu’adz, yang bertanya kepadanya, “Mau ke mana wahai Abu Umar?”

Anas menjawab, “Di sana ada aroma surga wahai Saad. Aku bisa mencium baunya dari arah Uhud.” Setelah itu dia beranjak dan menyerbu, tak seorang pun mendapatkan jasadnya. Namun kemudian saudarinya bisa mengenalinya dari perawakan tubuhnya, yang ternyata tubuhnya terdapat dari delapan puluh luka, ada yang berupa sabetan pedang dan ada yang berupa hujaman anak panak dan ada yang berupa tusukan tombak.

Tsabit bin ad-Dahdah berseru kepada kaumnya, “Wahai semua orang Anshar, kalau pun Muhammad benar-benar terbunuh, toh Allah hidup tidak mati. Berperanglah atas nama agama kalian, karena Allah akan memenangkan dan menolong kalian.” Maka beberapa orang Anshar bangkit bersama untuk mengahalangi kavaleri Kalid bin al-Walid. Mereka terus berperang sehingga Tsabit bin ad-Dahdah bisa dibunuh Khalid dengan tombak, dan akhirnya semua rekannya juga mati.

Ada orang Muhajirin melewati seseorang Anshar yang sedang berlumuran darah. Dia bertanya, ”Wahai Fulan, apakah engaku merasa bahwa Muhammad benar-benar telah terbunuh?”

Orang Anshar itu menjawab, ”Jika Muhammad telah terbunuh berarti dia telah sampai ke surga. Maka berperanglah kalian atas nama agama kalian.”

Dengan keberanian, semangat dan sifat ksatria semacam ini, maka mental orang-orang Muslim kembali bangkit. Mereka segera membuang jauh-jauh pikiran mereka untuk menyerah atau berhubungan dengan Abdullah bin Ubay. Mereka memungut senjatanya kembali dan menghadang gelombang serangan pasukan Quraisy. Mereka yang tadinya bercerai berai itu berusaha menyibak jalan agar bisa agar sampai ke pusat komando. Bahwa mereka sudah mendengar bahwa kabar tentang terbunuhnya Muhammad adalah bohong semata. Hal ini semakin menambah kekuatan, sehingga mereka bisa memutar jalan dan berhimpun kembali dengan pusat komando, setelah berperang habis-habisan.

Di sana ada kelompok ketiga yang pikiran mereka hanya bertuju kepada keselamatan diri Rasulullah saw. Mereka mundur dari front terdepan untuk melindungi beliau. Mereka dipimpin Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khathab, Ali bin Abu Thalib dan lain-lain yang tadinya berada di dalam barisan paling depan. Mereka mundur karena merasa ada bahaaya yang mengancam keselamatan diri beliau yang mulia.

(shodiq ramadhan)

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button