RESONANSI

Ilusi Pakar di Era ‘Scroll’: Membaca Ulang ‘The Death of Expertise’

Oleh: Fajri, Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah potongan video yang jamak beredar di media sosial. Isinya merekam perdebatan sengit tentang hukum agama di ruang publik digital.

Menariknya, kolom komentar jauh lebih ramai dan riuh daripada isi videonya sendiri. Ribuan orang saling menyanggah, saling mengoreksi, bahkan saling menyalahkan satu sama lain.

Sebagian besar warganet berbicara dengan keyakinan yang sangat tinggi. Mereka seolah-olah sudah selesai menguasai persoalan rumit yang sedang diperdebatkan tersebut.

Pemandangan seperti itu hari ini tentu bukan lagi sesuatu yang istimewa. Fenomena ini dapat ditemukan hampir setiap hari di berbagai platform media sosial.

Apa saja kini bisa menjadi bahan perdebatan massal oleh para pengguna internet. Mulai dari urusan politik, kesehatan, ekonomi, hingga ranah sensitif seperti agama.

Di era digital ini, semua orang memiliki panggung dan memegang mikrofonnya masing-masing. Semua orang dapat berbicara kepada publik secara bebas tanpa harus melewati proses kurasi yang panjang.

Di satu sisi, kemudahan akses keadaan ini tentu patut kita syukuri. Tidak pernah dalam sejarah manusia, akses terhadap informasi menjadi semudah sekarang.

Jika dahulu seseorang harus mendatangi perpustakaan atau membeli banyak buku untuk mempelajari sebuah persoalan, hari ini situasinya berubah total. Jutaan informasi telah tersedia secara instan hanya melalui telepon genggam di tangan.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut justru menghadirkan sebuah paradoks yang menarik. Semakin mudah seseorang memperoleh informasi, semakin banyak pula orang yang merasa telah memahami sesuatu secara utuh.

Kegelisahan emosional inilah yang pernah disampaikan oleh Tom Nichols dalam bukunya, The Death of Expertise. Nichols melihat munculnya gejala ketika masyarakat semakin sulit membedakan antara pengetahuan mendalam dan opini belaka.

Kehadiran internet membuat informasi tersedia di mana-mana secara melimpah. Namun, fenomena ini tidak selalu diikuti oleh kemampuan masyarakat untuk memahami informasi tersebut secara mendalam.

Ketika buku tersebut terbit beberapa tahun lalu, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) belum seakrab sekarang. Hari ini, situasi sosial budaya kita bahkan jauh lebih menarik.

Kita hidup di masa ketika jawaban atas segala pertanyaan dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Seseorang dapat bertanya kepada AI tentang filsafat, ekonomi, sejarah, hingga agama dan segera mendapatkan jawaban yang tampak meyakinkan.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button