Solidaritas Palestina di Tengah Aliansi Israel-UEA
Delegasi Palestina di PBB menyatakan aneksasi ini telah berlangsung “secara brutal dan tanpa henti”. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka menggaungkan konsep “Israel Raya” yang mencakup pencaplokan seluruh wilayah Palestina, Yordania, sebagian besar Lebanon dan Suriah, hingga bagian dari Arab Saudi, Mesir, Irak, dan Kuwait.
Konsep ini bukan sekadar retorika semata. Netanyahu sendiri telah memamerkan peta provokatif yang menghapus batas-batas kedaulatan negara tetangga.
Para pengkritik normalisasi menegaskan bahwa diplomasi tidak pernah netral secara moral. Sebagaimana dunia menolak menormalisasi hubungan dengan apartheid Afrika Selatan di masa lalu, demikian pula seharusnya sikap terhadap sistem dominasi Israel yang terus menjajah bangsa Palestina.
UEA memang menunjukkan solidaritas kemanusiaan yang luar biasa melalui bantuan miliaran dolar, rumah sakit, dan evakuasi medis. Langkah bantuan kemanusiaan ini harus tetap diakui.
Namun, solidaritas ini berjalan berdampingan dengan normalisasi politik dan aliansi militer dengan Israel. Langkah ganda ini justru dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.
Dengan mempertahankan normalisasi hubungan di tengah pendudukan Israel dan ambisi ekspansionis yang terang-terangan, solidaritas UEA dinilai tidak serius mendukung perjuangan Palestina. Solidaritasnya berkembang menjadi bentuk ‘solidaritas kontroversial.’
Di sisi lain, normalisasi itu menjadikan UEA memberi legitimasi terhadap sistem penindasan. Langkah tersebut dinilai bertentangan dengan hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan universal.[]






