Stigma Masyarakat terhadap Pesantren, Viralitas atau Moralitas?
“Wa asyghili dzolimin bi dzolimin.” Sibukkanlah orang-orang zalim dengan sesama orang zalim.
Sebagian masyarakat menilai tayangan itu tidak adil dan cenderung menyesatkan opini publik. Bukan kritik yang membangun, melainkan framing yang menggiring kebencian terhadap ulama dan lembaga pesantren.
Peristiwa tersebut, tentang tragedi ambruknya pondok dan tayangan yang ada di Trans7, keduanya seakan-akan saling terhubung. Keduanya memperlihatkan satu masalah besar, masih banyak orang yang belum benar-benar memahami dunia pesantren.
Di satu sisi, tragedi itu menjadi ujian bagi pesantren dan para santri. Di sisi lain, munculnya tayangan televisi tersebut memperkuat kesalahpahaman lama yang terus diwariskan tanpa dasar pengetahuan yang cukup.
“Sebagai santri, saya tidak menolak kritik. Saya paham bahwa setiap lembaga, termasuk pesantren, pasti punya kekurangan. Tapi yang membuat sedih adalah ketika kritik berubah menjadi caci maki, ketika empati tergantikan oleh tuduhan.”
Rasanya tidak adil ketika mereka yang tidak tahu kehidupan pesantren ikut menilai seolah paling paham. Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, namun di dalamnya kita juga belajar kesederhanaan, perjuangan dan juga basic life survival.
Santri diajarkan untuk menghormati ilmu, mengabdi kepada guru dan masyarakat, dan saling menolong sesama teman. Nilai-nilai ini sering luput dari pandangan luar yang hanya melihat dari permukaannya saja.
Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang yang begitu mudah menyulut api salah paham. Banyak orang terburu-buru berpendapat tanpa mencari tahu kebenaran. Mereka hanya melihat potongan video atau membaca judul berita, lalu merasa cukup untuk menghakimi. Padahal, di balik setiap tragedi, ada keluarga yang berduka, di balik setiap tayangan yang menyinggung, ada ribuan santri yang merasa terluka.
“Saya belajar satu hal penting dari dua peristiwa ini, empati adalah hal yang semakin langka di dunia digital. Orang lebih cepat menilai daripada memahami, lebih mudah menuding daripada mendoakan.”
Padahal, jauh dari berbagai prasangka buruk itu, dunia pesantren selalu mengajarkan untuk melihat sesuatu dengan hati, bukan hanya dengan mata. Karena itulah, semoga kedepannya masyarakat— terutama mereka yang tidak pernah mengenal pesantren secara langsung, bisa belajar menahan diri sebelum berkomentar. Cobalah melihat lebih dalam, bukan hanya dari berita atau potongan tayangan.
Dunia pesantren memang tidak sempurna, tetapi di dalamnya tumbuh nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi moral bangsa ini. Tragedi mushola pondok yang ambruk dan kasus viral Trans7 semestinya tidak menjadi ajang saling menyalahkan, melainkan momentum untuk memperbaiki cara kita memandang satu sama lain.
Sebab jika empati bisa tumbuh, maka setiap peristiwa sepedih apa pun akan melahirkan pelajaran, bukan permusuhan. Dan dari sanalah, mungkin, kebaikan akan kembali tumbuh di tengah luka.[]
*Aristya Luna RU, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.






