Stigma Masyarakat terhadap Pesantren, Viralitas atau Moralitas?
Oleh: Aristya Luna RU*
Beberapa waktu lalu, Sidoarjo telah menyebar kabar pilu. Berita berasal dari sebuah pesantren yang notabene-nya bukanlah pesantren kecil apalagi abal-abal— Al Khoziny, yang tahun ini genap sudah usianya mencapai satu abad.
Siapa yang menyangka bangunan mushola itu akan roboh secara tiba-tiba saat para santri tengah melaksanakan salat asar berjamaah. Sejumlah santri sempat terjebak di antara reruntuhan bangunan yang sebelum pada akhirnya dievakuasi oleh belasan ambulan.
Saat itu, aparat kepolisian dan tim BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) pun dikerahkan. Dibantu alat berat untuk menyisir puing-puing bangunan demi mencari para korban. Sungguh tragis sekaligus pilu, tangis keluarga pecah saat menanti kabar tentang anak atau saudara mereka yang menjadi santri di pesantren tersebut.
Di tengah keresahan itu, pengasuh pesantren dengan tegar berkata, “Saya kira ini takdir dari Allah. Jadi, semuanya harus bisa bersabar dan mudah-mudahan diberi ganti oleh Allah yang lebih baik.”
Alih-alih mengambil sisi positif dari ucapan KH Abdus Salam Mujib pada media tersebut, sebagian warganet justru menyalahartikan yang pada akhirnya lahirlah hate comment.
Banyak yang menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk ketidakpedulian, padahal beliau hanya mengajarkan sikap sabar dan tawakal di tengah ujian.
“Sebagai seorang santri yang juga berasal dari Kota Udang, saya merasa terpukul atas hal demikian. Saya paham dengan apa yang mereka rasakan, saya juga memiliki adik yang seusia dengan para korban. Namun, dengan mendengar kesalahpahaman itu, membuat hati saya campur aduk antara duka, resah, dan geram, yang terasa begitu nyata.”
Sementara di tengah suasana berduka itu, terlihat hal yang lebih menyakitkan lagi. Bukan dari reruntuhan bangunan, tetapi dari komentar-komentar di media sosial. Banyak di antara mereka yang tidak pernah hidup di pesantren, bahkan tidak mengenal dunia kepesantrenan sama sekali, dengan mudahnya menyalahkan Kiai dan lembaga pesantren atas kejadian tersebut.
Sebagian dari mereka menuduh pengurus lalai, sebagian lagi mengatakan bahwa pondok hanya memanfaatkan santri tanpa memikirkan keselamatan mereka. Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, bisa jadi mereka yang berbicara seperti itu mungkin tak pernah tahu bagaimana kehidupan pesantren sesungguhnya, yang sederhana, penuh kebersamaan, dan selalu diselimuti barokah keluarga ndalem dan asatidz.
Meski tragedi itu belum juga diselesaikan, bahkan bisa dikatakan masih “anget-angetnya” media malah memunculkan persoalan baru yang memancing kemarahan seluruh santri di Indonesia. Yakni tayangan di salah satu chanel televisi terkenal— Trans7 yang dinilai melecehkan Kiai dan sistem yang terdapat di pesantren.
Dalam tayangan tersebut, pesantren dideskripsikan secara diskriminatif. Digambarkan bahwa pesantren seolah-olah adalah tempat yang kolot, keras, dan para Kiainya hidup bermewah-mewahan. Secara cekatan, tayangan itu pun menjadi viral di dunia maya. Hal itu menimbulkan gelombang protes besar dengan tagar #BoikotTrans7 di berbagai platform media sosial.
Ironisnya, ketika tragedi tersebut terjadi atau saat isu negatif muncul, media berlomba memberitakan. Namun, di mana mereka ketika para santri menorehkan prestasi? Di mana mereka ketika para santri berhasil memenangkan lomba? Di mana mereka ketika para santri menulis sebuah karya ilmiah, atau bahkan sampai membawa nama indonesia ke kancah internasional?






