Tabayyun, Senjata Ampuh Muslim di Era Gempuran ‘Cyberbullying’
Berbeda dengan kata yang terucap dan segera hilang, jejak digital hampir mustahil dihapus. Setiap komentar jahat, foto yang mempermalukan, atau fitnah yang diunggah bisa terus beredar bertahun-tahun. Selama konten itu dilihat dan disebarkan orang lain, selama itu pula dosa akan terus mengalir kepada penulisnya bahkan setelah ia meninggal dunia.
Inilah bentuk nyata dari dosa jariyah digital. Jika pahala jariyah dapat mengalir dari amal baik yang bermanfaat, maka dosa pun bisa mengalir dari jejak digital yang melukai orang lain. Betapa mengerikannya jika layar yang setiap hari kita sentuh justru menjadi saksi keburukan kita di akhirat kelak.
Islam juga tidak mengajarkan kita untuk diam melihat kemungkaran. Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan; jika tidak mampu, maka dengan lisan; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hati.”
Dalam konteks dunia maya, “mengubah dengan tangan” bisa berarti melaporkan akun atau komentar yang berisi ujaran kebencian. “Dengan lisan” bisa dilakukan dengan menulis komentar penyejuk, membela korban secara bijak, atau menasihati pelaku. Dan “dengan hati” berarti tidak ikut menyukai, mengomentari, atau menyebarkan konten negatif, serta mendoakan kebaikan bagi semua pihak.
Islam sejatinya telah menyediakan panduan etika yang lengkap bukan hanya untuk dunia nyata, tetapi juga dunia maya. Di tengah derasnya arus informasi, mari kembali pada prinsip muhasabah (introspeksi) sebelum menekan tombol “posting”.
Tanyakan pada diri sendiri: Apakah tulisan ini bermanfaat? Apakah akan menyakiti seseorang? Apakah Allah rida? Gunakan media sosial sebagai ladang kebaikan: berbagi ilmu, menyebar semangat positif, dan menumbuhkan empati.
Bagi korban cyberbullying, ingatlah bahwa kesabaranmu memiliki nilai tinggi di sisi Allah. Setiap luka yang kamu tanggung akan menjadi bukti kezaliman di hadapan-Nya.
Mari bersama-sama menciptakan ruang digital yang sehat dan berakhlak. Sebab, menjaga jari dari keburukan adalah bagian dari menjaga hati—dan menjaga hati adalah inti dari keimanan.[]
*Farhatus Solihati, Mahasiswi Program Studi Tasawuf Psikoterapi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.






