Tentara Israel Eksekusi Sopir Truk Bantuan Pangan di Koridor Philadelphi
Pekerjaan yang Sangat Berbahaya
Perusahaan angkutan swasta secara rutin disewa oleh PBB maupun lembaga kemanusiaan internasional lainnya. Mereka bertugas mengangkut pasokan makanan dan kebutuhan pokok krusial ke dalam wilayah Gaza.
Meskipun arus bantuan dilaporkan meningkat sejak gencatan senjata parsial pada Oktober, situasi di lapangan tetap mencekam. Tentara Israel masih menguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza dan terus melancarkan serangan terhadap sasaran yang dituduh terkait Hamas.
Kondisi konflik yang tidak menentu ini membuat profesi sopir truk logistik kemanusiaan menjadi sangat berisiko. Pekerjaan tersebut kini diakui sebagai salah satu profesi paling berbahaya di Jalur Gaza.
Dugaan Insiden Serupa
Kasus kekerasan terhadap pekerja logistik ini bukan pertama kalinya terjadi di wilayah konflik tersebut. Pada 21 Mei, dua sopir Palestina lainnya, Muhammad al-Heela dan Mahmoud Awad, juga dilaporkan ditembak dalam kondisi serupa.
Berdasarkan kesaksian warga setempat, keduanya sempat ditahan oleh tentara Israel selama beberapa hari. Mereka kemudian dibebaskan di dekat bundaran Rafah, namun langsung ditembak setelah berjalan beberapa meter dari lokasi penahanan.
Pihak IDF kala itu berkilah bahwa jalur yang dilalui kedua sopir tersebut tidak dikoordinasikan terlebih dahulu dengan militer.
Namun, Jihad Esleem membantah keras tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa perjalanan mereka telah resmi terdaftar. Ia memastikan seluruh manifes perjalanan telah memperoleh persetujuan tertulis dari otoritas terkait.
Sebulan sebelumnya, tentara Israel juga menembak mati dua orang sopir yang bekerja untuk organisasi PBB, UNICEF. Keduanya ditembak saat sedang mengisi truk air di titik distribusi resmi yang berada di Mansoura, Gaza utara.
Ketika dimintai penjelasan oleh awak media, pihak IDF hanya berdalih bahwa tentaranya merasakan adanya ancaman di lokasi. Mereka menolak memberikan rincian lebih lanjut mengenai parameter ancaman yang dimaksud.
Tragedi besar juga pernah terjadi pada April 2024 ketika tujuh pekerja kemanusiaan WCK tewas akibat serangan udara Israel. Serangan mematikan tersebut menyasar konvoi bantuan di wilayah Gaza selatan.
Para korban tewas tersebut diketahui berasal dari Inggris, Australia, Polandia, Palestina. Salah satu di antaranya merupakan warga negara ganda Amerika Serikat–Kanada.






