Tersingkir dari Piala Dunia, Kebanggaan Mesir Tetap Terjaga
Dari Kegembiraan Menuju Kesedihan
Mesir seperti berada di atas awan ketika Yasser Ibrahim mencetak gol pada babak pertama dan Mostafa Zico menambah gol kedua pada babak kedua.
Bahkan sebuah gol Mesir yang dianulir secara kontroversial di antara kedua gol tersebut tidak mampu meredam semangat para pendukung.
Ihab Omar, seorang sopir becak motor (tuk-tuk) yang duduk di sisi lain kafe, semakin bersemangat seiring berjalannya pertandingan.
“Kalau sebelumnya kami diminta membayangkan skenario babak pertama, kami tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang benar-benar terjadi,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Semakin waktu berjalan, Ihab semakin optimistis. Ia bahkan mulai bertanya kepada orang-orang di sebelahnya mengenai calon lawan Mesir di babak perempat final. Namun sepak bola bisa menjadi permainan yang sangat kejam.
Bek Argentina Cristian Romero mencetak gol pertama pada menit ke-79, dan wajah Ihab mulai menunjukkan kekhawatiran. Meski begitu, ia belum kehilangan harapan.
Sambil bergumam ia berkata, “Insyaallah kita akan mencetak gol ketiga dan menghabisi mereka.”
Namun giliran sang maestro Messi yang berbicara. Hanya empat menit setelah memberikan assist kepada Romero, ia mencetak gol penyeimbang Argentina.
Tak lama kemudian, Enzo Fernandez menyambut umpan silang dengan sundulan yang menghasilkan gol ketiga sekaligus gol kemenangan Argentina.
Ihab langsung meluapkan kemarahannya dan membalikkan meja beserta minuman yang ada di atasnya.
“Wasit yang kejam dan tidak adil! Dari awal itu seharusnya pelanggaran terhadap Salah yang menghasilkan penalti,” katanya, merujuk pada insiden yang menurut banyak warga Mesir merupakan pelanggaran terhadap kapten mereka dalam proses terciptanya gol Argentina.
Berbeda dengan gol Mesir yang dianulir setelah ditinjau, dugaan pelanggaran tersebut tidak diperiksa melalui VAR (video assistant referee) dan gol Argentina tetap disahkan.
Umm Wafaa juga merasa sangat patah hati, meskipun tidak semarah Ihab. “Kemenangan sebenarnya sudah di depan mata,” katanya.
Namun ia tidak menyalahkan para pemain Mesir. Menurutnya, penyebab utama adalah “wasit yang tidak adil” yang dianggap memihak Argentina.






