Tersingkir dari Piala Dunia, Kebanggaan Mesir Tetap Terjaga
Bangga Terhadap Tim
Usai pertandingan, Ihab berusaha keras menahan air mata yang mulai menggenang di matanya.
“Meskipun mimpi kami hancur setelah begitu dekat untuk mencapainya, kamilah yang pantas menang. Kami memainkan pertandingan terbaik dalam hidup kami melawan Messi,” katanya.
“Tapi jelas FIFA tidak ingin Messi tersingkir.”
“Meski begitu, demi Allah, kami tetap bangga dengan tim nasional. Alhamdulillah kami bertanding secara terhormat. Kalau bukan karena ketidakadilan itu, kami pasti sudah berada di perempat final.”
Selain rasa bangga terhadap para pemain, penampilan Mesir di Piala Dunia—terutama saat menghadapi Argentina—juga menuai pujian bagi pelatih Hossam Hassan.
Mantan penyerang bintang Mesir pada era 1990-an yang hingga kini masih menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional itu sebelumnya banyak dikritik sejak mengambil alih kursi pelatih pada 2024.
Salah satu pengkritiknya adalah Mohamed Antar. Namun, saat berbicara dari sebuah kafe di Sheikh Zayed City, Kairo, ia mengaku telah mengubah pandangannya.
“Se初 awal saya bukan penggemar Hossam Hassan, tetapi sekarang saya benar-benar mengubah penilaian saya terhadapnya,” kata Mohamed.
“Baik dari segi tim yang ia bangun, semangat yang berhasil ia hidupkan kembali di tim nasional—sesuatu yang belum kami rasakan sejak era Mohamed Aboutrika—maupun sikapnya yang mencerminkan perasaan kami sebagai rakyat Mesir terhadap Gaza, serta dukungannya kepada masyarakat di sana.”
“Hari ini kami bangga dengan permainan dan penampilan tim nasional. Kami sedih karena kemenangan direnggut akibat keputusan wasit, tetapi kami juga bangga atas pencapaian yang telah diraih, serta pengakuan dunia bahwa kamilah yang sebenarnya lebih layak menjadi pemenang.”
Sumber: Aljazeera.com






