#Lawan IslamofobiaSOSOK

Tiga Muslim Syahid Menghadang Aksi Teror di Islamic Center San Diego

Putrinya, Hawaa Abdullah, dengan didampingi oleh anggota keluarga lainnya dalam konferensi pers pada Selasa (19/05/2026), menyatakan bahwa ayahnya adalah sosok yang sangat penuh kasih sayang, selalu mendukung keluarga, menjadi sahabat terbaik, sekaligus teladan utama.

Baca juga: Saya Kenal Amin Abdullah, Pahlawan dalam Penembakan Masjid San Diego

Hawaa mengungkapkan bahwa ayahnya menjalankan tugas melindungi komunitas Muslim dengan sangat serius, bahkan terkadang almarhum rela menolak makan selama giliran tugas jaga demi kewaspadaan penuh.

“Beliau ingin menunda makannya sampai setelah selesai bekerja karena beliau sangat khawatir jika beliau sedang beristirahat, sesuatu yang buruk akan terjadi pada masjid,” ungkap putrinya dengan penuh rasa haru.

Abdullah selalu menyambut setiap pengunjung yang datang ke masjid dengan senyuman hangat dan ucapan salam khas umat Islam dalam bahasa Arab, yaitu assalamu alaikum yang berarti semoga kedamaian bersamamu, menurut kesaksian Mahmood Ahmadi, seorang jemaah senior.

Sahabat karib almarhum lainnya, Shaykh Uthman Ibn Farooq, bersaksi bahwa Abdullah berada di masjid hampir setiap hari namun tetap menunjukkan dedikasi yang luar biasa tinggi kepada istri dan kedelapan anaknya.

Abdullah dibesarkan dalam lingkungan keluarga Kristen, dan pernah menceritakan perjalanan spiritualnya menemukan kebenaran iman Islam setelah lulus dari sekolah menengah atas melalui sebuah video YouTube yang diunggah pada tahun 2019.

Shaykh Uthman Ibn Farooq menambahkan bahwa ia pertama kali bertemu dengan Abdullah tidak lama setelah almarhum memeluk Islam pada dekade 1990-an, dan baru-baru ini mereka sempat berangkat melaksanakan ibadah umrah bersama ke Tanah Suci Mekah.

“Amin lahir sebagai seorang Muslim dari seorang ibu keturunan Afrika-Amerika, dia adalah seorang warga Amerika sejati, dan dia juga seorang Muslim yang sangat kaffah dalam menjalankan agamanya, namun dia harus gugur oleh peluru yang ditembakkan oleh dua pemuda radikal Amerika,” tulis Kashif-ul-Huda, seorang profesional bioteknologi sekaligus mantan rekan kerja Abdullah, dalam sebuah esai yang diterbitkan Al Jazeera pada Selasa (19/05/2026).[]

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button