#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Tiga Tahun ‘Nakba Ketiga’ di Tepi Barat

Pengusiran dan kekerasan terus menghantui warga Badui Palestina yang berulang kali dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak Nakba 1948.

“Mereka memberi kami waktu 24 jam — mereka mengusir kami ke arah al-Muarrajat — tanpa air, pada bulan September,” kenang Abu Najjeh.

Sepanjang 1970-an, berbagai perintah militer Israel terus memindahkan mereka ke berbagai wilayah di Tepi Barat selatan dan sekitar Ramallah.

“Sejak 1967,” katanya, “kami tidak pernah beristirahat satu hari pun.”

Sekitar 1980, mereka akhirnya menemukan tempat yang terasa seperti rumah. Di perbukitan timur Ramallah, di sebuah tempat bernama Ein Samiya — dinamai dari mata air di dekatnya — komunitas itu menetap selama lebih dari 40 tahun.

Jumlah ternak berkembang hingga ribuan ekor, dan anak-anak memiliki sekolah.

“Perasaannya damai,” kata Abu Najjeh, untuk pertama kalinya nada tergesa-gesa hilang dari suaranya. “Ternak bisa merumput sampai mata air al-Auja, minum, lalu kembali kepada kami. Itu kehidupan yang diberkati.”

Namun sejak 1990-an, komunitas itu menghadapi pembongkaran berkala atas rumah-rumah tenda mereka oleh otoritas Israel yang hampir tidak pernah memberikan izin bangunan bagi warga Palestina di Area C Tepi Barat.

Dengan bantuan organisasi kemanusiaan seperti Action Against Hunger, mereka mampu bertahan menghadapi pembongkaran.

Tetapi ketika para pemukim datang, situasinya berbeda.

Sekitar 2019, sebuah pos pemukim muncul di dekat mereka. Gangguan di area penggembalaan berubah menjadi intimidasi langsung di area tempat tinggal pada 2021.

Tak lama kemudian, para pemukim memblokir akses komunitas ke mata air. Mereka memasang paku di jalan menuju Ein Samiya dan memotret ternak keluarga sebagai langkah awal penyitaan.

Akibat pencurian ternak, peracunan, dan pembatasan akses tanah yang memaksa warga menjual domba mereka, jumlah ternak turun drastis dari 2.500 menjadi kurang dari 500 ekor.

Seiring meningkatnya serangan kekerasan dan pencurian ternak, Ein Samiya menjadi salah satu komunitas Badui pertama yang dipaksa mengungsi pada Mei 2023, beberapa bulan sebelum serangan 7 Oktober dan perang Gaza berikutnya.

Putra Abu Najjeh menyebut pengusiran brutal tahun 2023 itu sebagai “Nakba lainnya”.

Namun Nakba baru itu belum berakhir.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button