Tiga Tahun ‘Nakba Ketiga’ di Tepi Barat
Pengusiran dan kekerasan terus menghantui warga Badui Palestina yang berulang kali dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak Nakba 1948.
“Kami hidup di tanah ini dan mati di dalamnya”
Setelah para pemukim berhasil mengosongkan sebuah komunitas, mereka sering mengikuti ke mana keluarga yang terusir itu pindah.
Karena itu, 78 tahun setelah Nakba pertama, Abu Najjeh tidak terlalu fokus pada Nakba masa lalu.
“Nakba 1948, Nakba 1967, Nakba 2023,” katanya. “Ini adalah Nakba ketiga.”
Ia menunjuk ke arah timur.
“Dari Ein al-Beida di utara sampai Masafer Yatta di selatan — mereka telah mengosongkan seluruh sisi timur. Tidak ada lagi tanah penggembalaan. Tidak ada tempat untuk mendirikan karavan. Tidak ada yang tersisa.”
Menurut United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, sejak Januari 2023 hingga 4 Mei 2026, lebih dari 5.900 orang dari 117 komunitas di Tepi Barat mengalami pengusiran penuh atau sebagian akibat serangan pemukim dan pembatasan akses terkait.
Sebanyak 45 komunitas telah dihapus sepenuhnya. Sekitar 2.000 orang terusir hanya sepanjang tahun 2026.
Puluhan ribu warga Palestina lainnya juga dipaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan militer Israel di Tepi Barat.
Serangan pemukim dan penggerebekan harian militer Israel di kota-kota dan desa-desa Palestina di Tepi Barat telah menewaskan sedikitnya 1.090 warga Palestina sejak Oktober 2023, menurut PBB.
“Kami hidup di tanah ini dan mati di dalamnya,” kata Abu Najjeh, mengutip pepatah Badui.
“Tetapi saudara, kami butuh orang-orang. Komunitas yang hanya punya tujuh atau 10 laki-laki tidak bisa melawan 60 atau 70 orang.”
Para pekerja kemanusiaan di lapangan menggambarkan apa yang terjadi pada keluarga Kaabneh bukan sebagai kekerasan pemukim yang terpisah-pisah, melainkan pola sistematis.
“Mereka ingin dunia kelaparan,” kata Abu Najjeh. “Mereka ingin hidup menjadi mustahil agar orang-orang pergi meninggalkan negeri ini.”
Tiba-tiba Abu Najjeh berdiri. Putra-putranya berada di suatu tempat di Jiljilyya, di tengah amukan pemukim dan tentara.
Tidak ada lagi waktu untuk merenung — hanya krisis berikutnya.
“Orang-orang saya membutuhkan saya — saya harus pergi.” []
Sumber: Al Jazeera






