#Bebaskan PalestinaOPINI

Umat Kristen Tidak Bersatu Mendukung Israel

Narasi Zionisme Kristen yang mengaitkan iman dengan dukungan kepada Israel memiliki kelemahan mendasar. Kaum Injili mulai menyadarinya.

Bangsa Yahudi adalah suatu kelompok bangsa, sedangkan negara Israel modern adalah sebuah entitas politik yang baru berdiri pada tahun 1948. Negara tersebut memiliki batas wilayah, sistem pemilu, partai politik, dan kekuatan militer.

Pemerintahannya pun hanyalah sebuah koalisi politik yang bersifat sementara. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang mereka keluarkan dapat dan harus dinilai secara moral.

Menganggap seluruh hal tersebut sebagai bentuk kesetiaan kepada Alkitab sama sekali keliru. Fenomena ini bukanlah kesetiaan pada kitab suci, melainkan sebuah teologi politik yang dipaksakan.

Sekalipun orang Kristen meyakini bahwa bangsa Yahudi memiliki tempat khusus dalam rencana Allah, keyakinan tersebut tidak otomatis memutihkan dosa politik mereka. Suatu negara, pemerintahan, atau operasi militer tetap tidak kebal dari penilaian moral kemanusiaan.

Bagi pembaca di luar kalangan Injili, mungkin terasa aneh bahwa teks Alkitab berusia ribuan tahun dapat memengaruhi kebijakan Amerika modern. Namun, teologi Zionisme Kristen memahami janji Allah kepada Abraham dan Israel sebagai mandat mutlak untuk mendukung negara Israel hari ini.

Mereka sering kali mengutip Kitab Kejadian 12 yang berbunyi: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau.” Kutipan ini dijadikan tameng teologis bagi kebijakan politik mereka.

Namun dalam keseluruhan narasi Alkitab, janji kepada Abraham tidak pernah dimaksudkan sebagai cek kosong untuk membenarkan tindakan negara tanpa pertanggungjawaban. Tujuannya adalah agar “semua kaum di muka bumi mendapat berkat.”

Para nabi tidak pernah memberkati Israel dengan cara menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi. Mereka justru mengasihi Israel dengan menegur raja-raja yang jahat, membela kaum yang lemah, serta memperingatkan terhadap kekerasan, kesombongan, dan penposisian penindasan.

Yesus juga tidak pernah mengajarkan para pengikut-Nya untuk menyucikan suatu bangsa secara buta. Sebaliknya, Ia memanggil mereka untuk mengasihi sesama, memberkati musuh, dan menjadi pembawa damai.

Orang-orang Kristen di Amerika Serikat maupun di berbagai negara lain kini semakin membuka mata. Mereka mulai menyadari kelemahan logika di balik narasi teologi-politik Zionisme Kristen tersebut.

Survei Pew Research Center yang diterbitkan pada bulan April menemukan bahwa 60 persen warga dewasa Amerika kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Di antara responden Kristen, 48 persen umat Protestan dan 61 persen umat Katolik menyatakan hal serupa.

Meskipun kaum Injili kulit putih masih menjadi basis pendukung Israel yang kuat, perubahan arah pandangan mulai terjadi di kalangan mereka. Dalam survei yang sama, 32 persen kaum Injili kulit putih menyatakan memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel, naik dari 26 persen pada tahun 2025.

Saya menyaksikan sendiri perubahan yang perlahan namun nyata ini di lapangan. Kesadaran baru mulai tumbuh di kalangan akar rumput.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button