#Bebaskan PalestinaOPINI

Umat Kristen Tidak Bersatu Mendukung Israel

Narasi Zionisme Kristen yang mengaitkan iman dengan dukungan kepada Israel memiliki kelemahan mendasar. Kaum Injili mulai menyadarinya.

Organisasi-organisasi pro-Israel yang paling vokal mungkin masih mengklaim mewakili semua “orang Kristen yang percaya kepada Alkitab”. Namun, banyak kaum Injili yang saya temui kini mulai bergumul dengan pertanyaan eksistensial yang berbeda.

Mereka mempertanyakan apakah dukungan kepada Israel selama ini telah disamakan secara keliru dengan kesetiaan kepada Kitab Suci. Keraguan ini mulai menyebar luas di kalangan jemaat.

Saya melihat dampak dari keraguan tersebut setelah tampil dalam The Tucker Carlson Show pada bulan Februari lalu. Banyak pendeta dan pemimpin Injili menghubungi saya dengan penuh rasa kesedihan.

Mereka mengaku belum pernah mendengar langsung dari seorang Kristen Palestina mengenai arti penindasan di bawah pendudukan militer. Mereka terkejut mengetahui fakta tentang perluasan permukiman Yahudi, kontrol ketat, dan penghinaan yang setiap hari dialami komunitas Kristen.

Komunitas Kristen tersebut hingga kini masih bertahan hidup di Bethlehem, Beit Sahour, Yerusalem, Taybeh, dan Gaza. Informasi objektif ini membuka mata spiritual dan kemanusiaan mereka.

Saya juga menyaksikan secercah harapan pada konferensi pemuda Kristen Urbana 25 yang dihadiri sekitar 7.000 mahasiswa dan pemimpin Kristen di Phoenix. Saya berbagi panggung dengan Aaron Abramson, CEO Jews for Jesus.

Kami menunjukkan bahwa orang Israel dan Palestina tidak harus bersaing memperebutkan simpati umat Kristen dunia. Kami dapat saling mengakui penderitaan masing-masing dan bersama-sama menolak segala bentuk ketidakadilan.

Sesudah acara itu, banyak mahasiswa mengantre untuk mengucapkan terima kasih karena saya telah menyuarakan penderitaan rakyat Palestina. Mereka tidak sedang mencari musuh baru, melainkan mencari cara yang lebih setia kepada iman untuk menyampaikan kebenaran.

Itulah yang sedang diupayakan oleh generasi baru kaum Injili saat ini. Mereka ingin memulihkan iman yang menolak pilihan palsu antara keamanan bangsa Yahudi dan martabat rakyat Palestina.

Orang Kristen dapat menentang antisemitisme dengan tegas tanpa harus mentoleransi kebencian terhadap umat Islam. Mereka dapat berduka atas tragedi 7 Oktober tanpa membenarkan penghancuran total atas wilayah Gaza.

Mereka dapat menolak kekerasan tanpa berpura-pura bahwa penderitaan rakyat Palestina baru dimulai pada 7 Oktober. Mereka juga dapat peduli terhadap keamanan Israel tanpa memberkati perampasan tanah Palestina yang berlangsung terus-menerus.

Seharusnya semua prinsip kemanusiaan ini tidak menjadi kontroversi yang rumit. Hal itu baru menjadi kontroversial ketika teologi dipelintir demi melayani kepentingan kekuasaan politik praktis.

Bagi orang-orang Kristen Palestina, akibat dari penyimpangan teologi ini bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis belaka. Di Gaza, tentara Israel telah membunuh orang-orang Kristen dan membombardir bangunan gereja-gereja bersejarah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button