PARENTING

Urgensi Membangun Fondasi Iman Anak di Tengah Arus Zaman

Karena itu, orang tua dan guru memiliki peran yang sangat strategis. Bisa dikatakan bahwa metode lebih penting daripada materi, dan guru lebih penting daripada metode.

Namun, ruh atau jiwa seorang guru jauh lebih penting daripada guru itu sendiri. Artinya, keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum, melainkan juga pada kualitas pribadi pendidik yang menjadi teladan bagi anak-anak.

Nasihat Imam Syafi’i kepada guru anak-anak Khalifah Harun ar-Rasyid juga sangat relevan dengan kondisi sekarang. Beliau berpesan agar seorang guru terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri sebab pandangan anak-anak akan selalu tertuju kepadanya.

Apa yang dianggap baik oleh guru akan dipandang baik oleh murid. Sebaliknya, apa yang dibenci guru akan ikut dibenci oleh mereka.

Keteladanan inilah yang menjadi ruh pendidikan iman. Di tengah derasnya pengaruh media sosial, anak-anak lebih membutuhkan figur nyata daripada sekadar nasihat.

Mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua mengajak salat tetapi mereka sendiri sering menunda salat, atau guru mengajarkan kejujuran tetapi tidak memberi contoh dalam tindakan, pesan pendidikan akan kehilangan maknanya.

Ada beberapa langkah dan aplikasi praktis dalam pendidikan iman. Langkah tersebut antara lain membiasakan kalimat tauhid dan kalimat thayyibah, serta mengenalkan nikmat Allah.

Selain itu, penting juga menanamkan muraqabah atau kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, mengajak anak merenungi ciptaan-Nya, serta membiasakan ibadah yang disertai pemahaman dan dialog tentang iman. Pendekatan seperti ini membuat anak tidak hanya melakukan ibadah karena kebiasaan, tetapi juga memahami makna di baliknya.

Pada akhirnya, pendidikan iman adalah pendidikan hati dan kesadaran. Di era digital yang penuh tantangan ini, keberhasilan mendidik anak tidak hanya diukur dari kecerdasannya dalam menggunakan teknologi.

Keberhasilan tersebut juga diukur dari kemampuannya menjaga nilai, akhlak, dan keyakinan di tengah perubahan zaman. Dengan iman yang kuat, anak akan memiliki kompas moral yang membimbing setiap langkahnya.

Melalui fondasi tersebut, mereka mampu tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter. Mereka juga akan tetap teguh memegang ajaran Islam di mana pun berada.[]

Tri Pujiati, Kontributor.

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button