Ustaz Fahmi Salim Luncurkan Buku Monumental “Haji: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan”
Ustaz spesialis kajian akhir zaman itu mengatakan, ada pemahaman mendalam yang harus ditangkap oleh setiap muslim terkait hakikat haji. Menurutnya, haji bukan sekadar ibadah ritual biasa, melainkan sebuah ibadah agung yang mengantarkan lahirnya revolusi peradaban umat manusia.
Pandangan senada disampaikan oleh ahli fikih alumni Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, Ustazah Hj. Elly Warti Maliki.
Pendiri sekaligus pimpinan Indonesian Islamic International School (IIIS) di Jeddah itu menilai karya Ustaz Fahmi berhasil membongkar kekakuan pola pikir umat Islam yang selama ini cenderung memandang perjalanan haji secara biasa-biasa saja.
“Saya melihat buku ini sebagai karya yang berbeda dengan karya-karya tentang haji lainnya. Ibadah haji itu bukan sekadar ritual fisik individual semata. Ustaz Fahmi Salim ingin mengajak kita menjadikan perjalanan haji sebagai sebuah museum hidup dan peta jalan transformasi peradaban,” jelas Ustazah Elly.
Ustazah Elly menegaskan, tulisan Ustaz Fahmi Salim mengajak seluruh umat untuk menjadikan nilai-nilai tauhid sebagai energi utama dalam membangkitkan kesadaran kolektif kaum muslimin.
Selama ini, kata dia, tempat dan waktu terbaik sudah disediakan di Padang Arafah, namun banyak jemaah tidak menyadari perlunya bertemu di tempat tersebut untuk membicarakan masa depan dan persoalan umat.
Sementara itu, Ustaz Erick Yusuf menyampaikan kekagumannya atas produktivitas tulisan sang penulis.
Kepala Biro Kerjasama Antar Lembaga Eksternal DDII itu menilai gagasan pemurnian misi kenabian menuju revolusi kebangkitan merupakan jawaban atas kondisi masyarakat saat ini yang mulai kehilangan orientasi.
“Sangat menarik buku ini, dari pemurnian misi kenabian menuju revolusi kebangkitan. Ini adalah titik orientasi pemurnian awal yang sangat penting, mengingat saat ini kita sedang kehilangan orientasi, mengalami ketimpangan, dan menghadapi disharmonisasi,” ungkap Ustaz Erick Yusuf yang juga Wasekjen MUI Bidang Seni dan Budaya itu.
Dari perspektif akademis, peneliti BRIN Prof. Fahmi Amhar menguraikan tiga keistimewaan utama yang terkandung di dalam buku ini.
Pertama, haji diposisikan sebagai ibadah yang membentuk karakter manusia, yang sangat relevan mengingat setiap tahun ada lebih dari 200 ribu alumni haji asal Indonesia.
Kedua, kata Fahmi Amhar, haji sebagai energi kebangkitan. Sangat luar biasa jika energi tersebut tidak hanya berhenti menjadi kesalehan individual semata. Ketiga, haji sebagai pelajaran peradaban.
“Bagian akhir buku ini membawa kita dari madrasah akhlak menuju persatuan umat, artinya haji bukan hanya laboratorium spiritual tetapi juga laboratorium peradaban yang komprehensif dan aktual,” jelasnya.






