RESONANSI

Viral vs Bermakna: Dilema Etika Ceramah Figur ‘Gus’ di Era Medsos

Etika tetap menjadi batas yang tidak boleh dilanggar oleh seorang pendakwah, terlebih oleh figur publik yang membawa nama kehormatan “Gus”. Sayangnya, masih banyak yang memanfaatkan status tersebut untuk memperoleh popularitas atau keuntungan pribadi, meskipun minim pengetahuan dan pemahaman agama yang mendalam.

Dakwah memang terbuka bagi siapa pun, tetapi hendaknya dilakukan dengan bekal ilmu, kesantunan, dan tanggung jawab moral agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun penyesatan nilai.

Seorang pendakwah seharusnya menjadi teladan dalam menjaga adab, batas pergaulan, dan perilaku sopan terhadap lawan jenis maupun anak-anak. Perilaku mencium anak di depan umum jelas tidak sesuai dengan etika dakwah dan berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap agama itu sendiri.

Di sisi lain, orang tua juga perlu memiliki kesadaran kritis dan keberanian untuk menegur jika terdapat perilaku pendakwah yang tidak pantas. Sayangnya, sebagian masyarakat justru menormalisasi tindakan seperti itu dengan alasan hiburan atau keunikan.

Padahal, hal tersebut memperlihatkan pergeseran nilai: ceramah kini lebih dinilai dari hiburannya daripada substansi dan pesan moralnya. Fenomena ini sejalan dengan logika media sosial, yang mengutamakan konten lucu, mengejutkan, atau kontroversial ketimbang pesan yang bermakna.

Untuk memperbaiki situasi ini, diperlukan kesadaran kolektif dari masyarakat dan para pendakwah. Publik harus memahami bahwa tidak semua yang viral memiliki nilai dan makna. Ceramah yang baik tidak perlu sensasional; cukup berlandaskan dua prinsip utama: kebenaran dan etika.

Figur keagamaan pun harus menyadari bahwa popularitas tidak boleh menggeser integritas moral. Dakwah yang bermakna bukanlah yang paling ramai ditonton, tetapi yang mampu membentuk kesadaran, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam diri pendengarnya.[]

*Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button