RESONANSI

Viral vs Bermakna: Dilema Etika Ceramah Figur ‘Gus’ di Era Medsos

Oleh: Dona Apriana*

Dalam beberapa waktu terakhir, dunia dakwah di Indonesia dihadapkan pada persoalan serius terkait etika penyampaian ceramah oleh figur-figur publik, khususnya yang bergelar “Gus”.

Kasus bermula dari gaya penyampaian ceramah yang dianggap hanya sebagai “guyonan”, tetapi ternyata menyinggung dan melukai perasaan sebagian jamaah.

Sebagian pihak menganggap hal tersebut lumrah, sementara lainnya menilai perlu adanya peringatan dan koreksi terhadap cara berdakwah yang melampaui batas etika.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah seorang pendakwah bergelar “Gus” boleh menafsirkan kebebasan berbicara tanpa memperhatikan etika dakwah?

Jika kesalahan telah diakui, seharusnya langkah yang diambil adalah introspeksi dan perbaikan, bukan pembelaan diri dengan menyalahkan media atau publik yang menyorotinya.

Kontroversi berikutnya muncul ketika salah satu “Gus” terekam mencium anak-anak jamaahnya di atas panggung. Aksi tersebut menuai kritik luas karena dianggap melanggar batas kesopanan dan adab seorang pendakwah, terutama di ruang publik.

Wakil Menteri Agama, HR Muhammad Syafi’i, bahkan menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak pantas dan Kementerian Agama akan memperketat pengawasan terhadap para pendakwah agar tidak bertindak di luar batas.

Meskipun permintaan maaf telah disampaikan, publik menilai bahwa perbuatan tersebut tetap harus ditindaklanjuti secara etis dan sosial. Fenomena ini menggambarkan realitas bahwa di era media sosial, popularitas sering kali lebih dihargai daripada nilai dan makna dakwah itu sendiri.

Padahal, jika dakwah ingin tetap menjadi sumber pencerahan, etika harus ditempatkan kembali sebagai standar utama. Ketenaran mungkin bertahan sejenak, tetapi makna memiliki umur yang jauh lebih panjang.

Secara sosiologis, muncul pertanyaan mengenai makna dan posisi gelar “Gus” itu sendiri. Gelar ini pada dasarnya digunakan untuk menyebut anak atau keturunan kiai pesantren. Namun, gelar tersebut sering kali menimbulkan sikap berlebihan dari masyarakat, bahkan kepada individu yang belum memiliki kapasitas keilmuan memadai.

Pendakwah muda seperti Kadam Sidik dalam salah satu video TikTok menyoroti fenomena ini, menceritakan bagaimana dirinya diperlakukan secara berlebihan hanya karena statusnya sebagai anak kiai. Ia mempertanyakan dasar penghormatan semacam itu karena yang berilmu sebenarnya adalah ayahnya, bukan dirinya.

Cerita ini memperlihatkan bahwa kultus terhadap gelar “Gus” atau “Ning” sering kali tidak diimbangi dengan penilaian objektif terhadap kapasitas dan integritas personal.

Melihat fenomena tersebut, penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dan bijak dalam menilai cara berdakwah seseorang. Tidak semua bentuk humor atau sindiran dalam ceramah dapat dibenarkan dengan alasan “sekadar guyon”.

1 2Laman berikutnya
Back to top button