Yang Disembelih Bukan Ismail, Melainkan Rasa Memiliki Kita
Oleh: KH Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Kita semua menghafal kisah Nabi Ibrahim alaihis salam (A.S.) dan keluarganya. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Beliau adalah seorang ayah yang baru saja dikaruniai keturunan setelah puluhan tahun menanti.
Ismail, anak yang saleh, tumbuh di hadapannya dengan lemah lembut. Perintah itu datang saat cinta seorang ayah kepada anaknya sedang berada di titik terdalam.
Namun, di atas bukit Mina, pisau itu tidak benar-benar melukai.
Sebab, Allah tidak pernah menginginkan darah Ismail. Allah menginginkan hati Ibrahim. Allah ingin menguji: siapa yang paling dicintai? Anak yang dinanti atau Tuhan yang memberi?
“Nabi Ibrahim tidak diminta menyembelih anaknya, tetapi diminta menyembelih ‘rasa memiliki’ yang berlebihan terhadap dunia.”
Inilah inti kurban.
Kita sering salah paham dan mengira kurban hanya tentang hewan yang disembelih. Padahal, hewan itu hanyalah simbol. Hal yang sebenarnya disembelih adalah rasa memiliki kita yang berlebihan.
Rasa memiliki pada anak, sehingga kita takut menyekolahkannya di jalan Allah.
Rasa memiliki pada harta, sehingga terasa berat untuk disedekahkan. Rasa memiliki pada jabatan, sehingga kita rela menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya. Rasa memiliki pada diri sendiri, sehingga sulit berkata, “Aku siap, ya Allah,” ketika diminta berkorban.
Kisah Ibrahim dan Ismail adalah cermin bagi kita semua. Apakah “Ismail” kita hari ini? Apakah sesuatu yang paling kita cintai di dunia, sampai-sampai ia menjadi penghalang antara kita dan Allah?
Bisa jadi itu karier Anda. Bisa jadi itu pasangan Anda. Bisa jadi pula itu gengsi dan nama baik Anda. Selama hal itu lebih Anda cintai daripada perintah Allah, selama itu pula hati Anda belum merdeka.
Kurban sejati adalah ketika kita mampu berkata seperti Ismail:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” [Q.S. Ash-Shaffat: 102].
Pasrah. Tunduk. Ikhlas.
Di hari raya ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: apa yang perlu aku sembelih tahun ini agar hatiku kembali bersih untuk Allah?
Sebab, kurban yang diterima bukanlah yang gemuk dan mahal harganya, melainkan yang lahir dari hati yang sudah menyembelih cinta berlebihannya pada dunia.
Maka, sembelihlah. Sembelihlah rasa memiliki itu sebelum ia menyembelih iman kita.[]






