RESONANSI

Lombok, Seribu Satu Pondok

Oleh: M. Zainul Arifin*

Pulau Lombok tidak hanya menyimpan banyak masjid yang kemudian melahirkan sebutan dengan “pulau seribu masjid”, tetapi juga menjadi gudang bagi pondok-pondok pesantren untuk mendidik manusia menjadi insan yang berilmu dan abid.

Mendirikan lembaga pendidikan, seperti pondok pesantren, adalah suatu yang mulia dan bukti semangat yang kuat untuk melestarikan ilmu-ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama.

Namun, mengingat jumlah pondok pesantren yang sudah cukup banyak, rencana mendirikan yang baru kiranya perlu dipertimbangkan secara matang sehingga tidak kesiangan untuk “subebelus mencincingkan”.

Jumlah pondok pesantren (ponpes) di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kabupaten Lombok Timur, terbilang cukup besar, baik yang fokus dalam pembelajaran kitab-kitab klasik maupun lainnya.

Menurut data Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, pada 2022, Provinsi NTB memiliki 863 pondok pesantren, dan meningkat menjadi 886 pada 2023.

Secara khusus di kabupaten Lombok Timur, tidak ada data yang menunjukkan berapa jumlah pondok pensantren yang ada. Tetapi jumlahnya yang banyak dapat kita tangkap berdasarkan jumlah lembaga tersebut yang lebih dari satu di banyak desa. Di desa Bandok, misalnya, telah berdiri tiga pondok pesantren dengan beberapa lembaga pendidikan formal yang bernaung di bawahnya.

Motivasi orang mendirikan pondok pesantren tentu beragam sebagaimana beragamnya hati manusia–kemudian melahirkan banyaknya lembaga yang aktif melestarikan ilmu-ilmu keislaman tersebut. Di antaranya adalah jumlah sarjana yang meningkat di suatu desa, terutama lulusan fakultas tarbiyah atau pendidikan.

Selain itu, perbedaan organisasi kemasyarakatan (ormas) agama yang dikiblati juga menjadi sebab. Begitu juga pendirian pondok pesantren baru dilandasi oleh ketidakpuasan seorang pendidik atas manajemen lembaga tempatnya mengabdikan diri, sehingga memilih mendirikan pondok pesantren lain.

Meskipun demikian, secara umum, pendirian pondok pesantren dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan pemahaman agama islam, baik untuk santri maupun masyarakat sekitar.

Dengan jumlah pondok pesantren yang cukup banyak sekarang ini, membuat banyak pondok pesantren kesulitan mendapat santri, utamanya yang berada di pedesaan.

Untuk menjaring calon murid atau santri, pondok-pondok pesantren akan sosialisasi ke sana-sini dan berbagai platform media sosial setiap masa penerimaan santri baru. Masing-masing menawarkan program-program unggulan dengan kemasan yang menarik untuk menggaet calon santri. Jurus serba gratis sering dipakai beberapa pondok pesantren untuk menjawab persaingan mendapatkan murid baru.

Ada juga yang rela mengeluarkan ratusan ribu untuk merayu calon santri supaya masuk di lembaganya. Memberi satu atau dua stel seragam sekolah juga menjadi strategi andalan. Semua berharap mendapat banyak murid. Namun, tidak sedikit yang mendapat sedikit. Kita berharap niat pondok-pondok itu untuk mendapat banyak murid adalah semata-mata untuk mendidik dan mempersiapkan generasi emas, bukan yang lain-lain.

1 2Laman berikutnya
Back to top button