Menjaga Jati Diri Pesantren di Tengah Gempuran AI
Oleh: Fajri*
Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia dalam waktu yang relatif singkat. Jika dahulu seseorang harus menghabiskan waktu berjam-jam mencari referensi di perpustakaan, kini berbagai informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik.
Jika dahulu pekerjaan tertentu hanya dapat dilakukan oleh manusia, kini sebagian mulai digantikan oleh algoritma dan mesin cerdas. Dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampak perubahan tersebut.
Cara belajar, cara mengakses informasi, bahkan cara berpikir generasi muda sedang mengalami transformasi besar. Anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar kemungkinan akan hidup dalam dunia kerja yang sangat berbeda dengan dunia orang tua mereka.
Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting bagi pendidikan Islam Indonesia mengenai bagaimana pesantren menjaga relevansinya di era AI. Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika dihubungkan dengan perubahan orientasi pendidikan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Tantangan Orientasi Pendidikan
Data Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama menunjukkan dinamika jumlah santri yang memunculkan berbagai diskusi di kalangan pemerhati pendidikan Islam. Terlepas dari perdebatan mengenai validitas data tersebut, fenomena ini mengajak kita untuk melihat persoalan yang lebih mendasar.
Mungkin yang sedang berubah bukanlah pesantrennya, melainkan masyarakat yang memilih pesantren. Saat ini mayoritas orang tua siswa berasal dari generasi milenial yang tumbuh dalam masa transisi teknologi yang sangat cepat.
Mereka menyaksikan lahirnya internet, media sosial, telepon pintar, hingga kecerdasan buatan. Pengalaman hidup tersebut membentuk cara pandang yang berbeda terhadap pendidikan.
Jika generasi sebelumnya cenderung memandang sekolah sebagai sarana pembentukan karakter dan perlindungan moral, maka generasi milenial melihat pendidikan sebagai kombinasi antara pembentukan karakter dan persiapan masa depan. Mereka tetap menginginkan anak-anak yang berakhlak baik dan memahami agama.
Namun, mereka juga menginginkan anak-anak yang mampu menguasai teknologi, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, serta beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung sangat cepat. Dengan kata lain, orientasi pendidikan mulai bergeser dari sekadar moral protection menuju future preparation.
Pergeseran ini tidak berarti masyarakat menjadi kurang religius. Sebaliknya, masyarakat justru menginginkan sintesis antara nilai-nilai agama dan kompetensi masa depan.
Mereka menginginkan anak yang saleh sekaligus kreatif serta beradab sekaligus inovatif. Mereka menginginkan anak yang memiliki fondasi moral yang kuat tanpa tertinggal dalam kompetisi global.
Dalam konteks inilah pesantren menghadapi tantangan baru. Tantangan tersebut bukan sekadar persaingan dengan sekolah umum, melainkan bagaimana menjawab harapan baru masyarakat tanpa kehilangan identitasnya.





