NASIONAL

Waspada, Krisis Kepercayaan Umat Jadi Ancaman Nyata Masa Depan Pesantren

Jakarta (Suaraislam.id) – Gejala penurunan minat masyarakat untuk memasukkan anak ke pesantren dinilai menjadi salah satu tantangan baru yang perlu mendapat perhatian serius.

Di tengah perubahan karakter generasi muda, meningkatnya tuntutan transparansi publik, serta perubahan pola pikir orang tua dalam memilih pendidikan, pesantren menghadapi dinamika yang berbeda dibandingkan dekade sebelumnya.

Cendekiawan Muslim Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) menilai, perdebatan mengenai validitas data jumlah santri yang belakangan menjadi perhatian publik tidak boleh mengaburkan persoalan yang lebih mendasar, yakni adanya indikasi menurunnya minat pendaftaran santri baru di sejumlah daerah.

Data Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama yang dihimpun dan diolah Tim Riset & Data UBN Newsroom menunjukkan jumlah santri tercatat menurun dari 4,37 juta pada Tahun Ajaran 2020/2021 menjadi 1,38 juta pada laporan sementara Tahun Ajaran 2025/2026. Meski demikian, data tersebut masih bersifat sementara.

Kementerian Agama sebelumnya menjelaskan bahwa proses sinkronisasi dan pembaruan administrasi di sejumlah daerah belum sepenuhnya selesai sehingga angka tersebut belum dapat dijadikan gambaran final mengenai jumlah santri nasional.

Menurut Bachtiar, terlepas dari persoalan validitas data, terdapat fenomena yang tidak bisa diabaikan.

“Berbagai laporan daerah menunjukkan adanya penurunan minat pendaftaran santri baru, terutama di pesantren tradisional. Itu yang perlu dicermati lebih jauh,” kata Bachtiar dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Perubahan Generasi dan Ekspektasi Orang Tua

Bachtiar melihat fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial yang sedang berlangsung. Generasi Alfa tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Akses terhadap teknologi digital, pola komunikasi yang lebih terbuka, serta kemudahan memperoleh informasi membentuk karakter dan ekspektasi baru terhadap dunia pendidikan.

Di sisi lain, sebagian pesantren masih mempertahankan model pendidikan yang relatif hierarkis dan belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Selain faktor generasi, perubahan juga terjadi pada kalangan orang tua. Jika pada masa lalu keputusan menyekolahkan anak ke pesantren banyak bertumpu pada kepercayaan terhadap figur kiai, kini orang tua cenderung menempatkan diri sebagai pengguna layanan pendidikan yang lebih kritis.

Mereka mempertimbangkan aspek keamanan, kesehatan, kualitas pendidikan, hingga transparansi tata kelola lembaga sebelum menentukan pilihan pendidikan bagi anak-anak mereka.

1 2Laman berikutnya
Back to top button