I’jaz Al-Qur’an dalam Struktur Kalimat Pendek: Kajian Balaghah dan Makna
Oleh: Tiara Ningsih*
Al-Qur’an dikenal memiliki gaya bahasa yang tidak tertandingi dalam sejarah sastra Arab. Keindahan bahasanya tidak hanya terletak pada panjang pendek ayat, melainkan juga pada kemampuannya menampaikan makna mendalam dengan ungkapan yang ringkas.
Fenomena ini disebut i’jaz Al-Qur’an, yaitu kemukjizatan bahasa Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa ia bukan hasil ciptaan manusia, melainkan wahyu dari Allah SWT.
Kalimat-kalimat pendek dalam Al-Qur’an, seperti yang terdapat pada surah Al-Ikhlas, Al Kafirun, atau Al Asr menggambarkan keseimbangan antara keindahan lafadz dan kekuatan makna. Dengan jumlah kata yang sedikit, ayat-ayat tersebut mampu menjelaskan prinsip besar akidah dan moral manusia.
Menurut M. Quraish Shihab dalam “Tafsir Al Misbah”, surah Al Ikhlas adalah contoh paling jelas dari ringkasnya lafaz namun, luasnya makna.
Dalam ayat pertama, قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa) Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata Ahad berbeda dengan Wahid. Ahad menegaskan ke-Esaan mutlak yang tidak dapat dibagi atau dibandingkan. Dengan satu ayat yang pendek, Al-Qur’an telah merumuskan dasar teologi Islam secara padat dan mendalam.
Ayat-ayat pendek berikutnya dalam surah ini seperti, ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ dan لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ, menurut Quraish Shihab merupakan bentuk i’jaz balaghi, yaitu keindahan dan ketetapan ekspresi yang tidak mungkin disusun oleh manusia. Setiap kalimat berdiri sendiri secara makna namun tetap menyatu dalam susunan yang sempurna.
Sementara Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menyoroti ayat فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ yang diulang 31 kali dalam surah Ar Rahman.
Buya Hamka menjelaskan, pengulangan ini bukan sekedar gaya sastra, melainkan bentuk pendidikan spiritual. Dengan pengulangan kalimat yang pendek dan mudah diingat, Allah menanamkan kesadaran mendalam tentang nikmat-Nya. Hamka menyebutnya sebagai kalimat yang hidup, karena setiap kali diulang, ia menggetarkan hati dan membangunkan rasa syukur manusia.
Hamka juga menjelaskan bahwa kalimat pendek ini menunjukkan gaya komunikasi yang efektif dan menyentuh. Al-Qur’an mengajarkan bahwa pesan yang besar tidak selalu membutuhkan kata yang banyak. Justru dalam ringkasan lafaz saja terkandung kekuatan pesan yang mudah diingat dan direnungkan.
Setiap pengulangan memiliki konteks makna yang berbeda, sesuai dengan nikmat yang disebut sebelumnya. Dengan cara ini, Al-Qur’an menanamkan kesadaran spiritual melalui irama dan pengulangan yang estetis.
Dalam konteks kehidupan modern, keindahan struktur kalimat pendek Al-Qur’an menjadi semakin relevan. Di era digital sekarang, manusia terbiasa dengan pesan singkat tetapi sering kali kehilangan kedalaman makna.






