Amtsal Al-Qur’an: Jalan Logis Menuju Hikmah dan Iman
Oleh: Hasanuddin, Mahasiswa Fakultas Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta Angkatan 2025.
Al-Qur’an diturunkan bukan hanya sebagai kitab hukum dan petunjuk hidup, melainkan juga sebagai sumber pelajaran yang menyentuh akal serta hati manusia. Salah satu metode penyampaian pesan yang paling indah dalam Al-Qur’an adalah amtsal (الأمثال), yaitu perumpamaan atau analogi.
Melalui amtsal, Allah menggambarkan suatu keadaan dengan sesuatu yang dekat dengan keseharian agar pesan ayat lebih mudah dipahami dan membekas di dalam hati. Secara bahasa, amtsal merupakan bentuk jamak dari matsal yang berarti perumpamaan, persamaan, atau perbandingan.
Dalam ilmu tafsir dan ulumul Qur’an, istilah ini diartikan sebagai penyamaan suatu hal dengan hal lain untuk menjelaskan makna tertentu secara lebih jelas dan mendalam. Terkait hal ini, Allah Swt. berfirman:
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Dan sungguh, Kami telah membuat berbagai macam perumpamaan bagi manusia dalam Al-Qur’an ini agar mereka dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 27)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perumpamaan dalam Al-Qur’an memiliki tujuan besar. Tujuannya adalah agar manusia mau berpikir, merenung, dan mengambil hikmah dari setiap pesan yang Allah sampaikan.
Para ulama tafsir pun memberikan perhatian besar terhadap pembahasan amtsal ini. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan digunakan Allah untuk mendekatkan pemahaman manusia terhadap perkara abstrak melalui gambaran nyata yang konkret.
Sementara itu, Az-Zamakhsyari menerangkan bahwa amtsal merupakan salah satu bentuk keindahan bahasa Al-Qur’an yang menunjukkan keluasan makna dan kemukjizatannya. Melalui perumpamaan tersebut, manusia dapat memahami hakikat iman, kufur, amal saleh, dan kehidupan dunia secara lebih mendalam.
Menurut Manna Al-Qaththan dalam kitab Mabahits fi Ulumil Qur’an, amtsal memiliki empat fungsi utama bagi pembacanya. Fungsi tersebut meliputi memperjelas makna, menguatkan nasihat, memotivasi manusia untuk berbuat baik, serta memperingatkan mereka dari keburukan.
Salah satu contoh amtsal yang sangat populer adalah perumpamaan tentang urgensi sedekah di dalam Surah Al-Baqarah ayat 261. Allah Swt. berfirman:
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang visualisasi pahala sedekah. Allah mengumpamakan sedekah seperti satu biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, di mana setiap tangkai memiliki seratus biji.
Hal ini menunjukkan bahwa amal yang dilakukan dengan ikhlas akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah secara berlipat. Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan kemurahan Allah terhadap hamba-Nya yang gemar berinfak di jalan kebaikan.






