QUR'AN-HADITS

Keledai Pembawa Kitab dan Cermin untuk Kita

Oleh: Muhammad Nursech Zamzami*

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dibebani Taurat kemudian tidak memikulnya (mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 5)

Bayangkan seekor keledai berjalan membawa tumpukan kitab tebal di punggungnya tanpa pernah tahu apa yang diangkut ataupun mengambil manfaat darinya. Itulah gambaran penuh makna yang dipilih Allah Swt. dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 5.

Gambar tersebut tentu bukan sekadar sindiran yang ditujukan untuk umat pada masa lalu. Melainkan, ia merupakan sebuah pertanyaan besar yang ditujukan langsung kepada hati kita hari ini.

Perumpamaan Paling Jelas dalam Al-Qur’an

Para ulama Ulumul Qur’an menyebut ayat ini sebagai kelompok amtsal musarrahah yang berarti perumpamaan eksplisit. Perumpamaan tersebut menggunakan formula tamtsil yang dinilai paling kuat dalam tatanan bahasa Arab.

Imam Al-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an menjelaskan bahwa formula mathalu… ka-mathali sengaja dipilih demi menutup segala celah interpretasi yang kabur. Namun, hal yang jauh lebih menakjubkan justru terletak pada detail aspek linguistiknya.

Syaikh Al-Zarqani dalam kitab Manahil al-‘Irfan mencatat bahwa Al-Qur’an menggunakan dua kata yang berbeda untuk menjelaskan aktivitas ‘memikul’.

Kata hummiluu digunakan untuk manusia yang mengandung makna amanah agung yang dibebankan ke pundak mereka.

Sementara itu, kata yahmilu dilekatkan untuk keledai yang hanya berarti mengangkut beban secara fisik belaka.

Melalui perbedaan redaksi ini, satu kata menyimpan tanggung jawab yang mendalam, sedangkan kata yang lain hanya menyimpan kekuatan otot semata.

Logika Mantiq di Balik Perumpamaan Ini

Dalam khazanah tradisi Ilmu Mantiq Islam, perumpamaan ayat ini membentuk sebuah silogisme (qiyas) yang sangat kokoh.

Premis pertamanya menegaskan bahwa siapa pun yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tidak mengambil manfaat dari ilmu tersebut.

Kelompok manusia itu memiliki ilmu namun enggan beramal, sehingga ditarik kesimpulan bahwa mereka setara dengan keledai pembawa kitab. Konsep berpikir ini terasa sangat sederhana, namun sekaligus sangat mematikan secara logis.

Hal yang paling mendalam dari perumpamaan tersebut justru terletak pada aspek paradoks yang tersembunyi di baliknya.

Seekor keledai tentu tidak menanggung dosa dari beban yang dibawanya karena makhluk tersebut tidak dibekali akal maupun pilihan hidup.

Sebaliknya, manusia yang dikaruniai akal, tahu kebenaran, dan memahami aturan, namun memilih acuh, dipastikan menanggung dosa yang jauh lebih berat.

Berdasarkan logika taklif, semakin banyak hal yang diketahui oleh seseorang, maka semakin besar pula pertanggungjawaban yang harus ia penuhi.

Oleh karena itu, pengetahuan yang dimiliki bukanlah sekadar tameng pelindung, melainkan berfungsi sebagai saksi nyata.

1 2Laman berikutnya
Back to top button