Satu Cinta, Dua Wajah
Oleh: Meliana, S.Si., M.Pd.I*
Hari Ayah Nasional seharusnya tidak hanya menjadi momen seremonial untuk mengucapkan terima kasih. Lebih dari itu, ia adalah waktu yang tepat untuk merenungi kembali sosok laki-laki yang diam-diam menanggung beban besar bernama tanggung jawab.
Ada dua wajah cinta yang sering luput disadari perempuan: cinta ayah dan cinta suami. Dua laki-laki yang berbeda zaman, berbeda cara bicara, namun menyimpan bahasa cinta yang sama, cinta yang bekerja dalam diam.
Ayah adalah cinta pertama yang menanamkan nilai-nilai kehidupan tanpa banyak kata. Dari langkah kakinya yang tak kenal lelah, dari keringat yang menetes tanpa pamrih, dari doa yang tidak pernah disuarakan namun selalu sampai. Ia mungkin jarang berkata manis, tetapi setiap tindakannya adalah kalimat kasih yang tak terbantahkan.
Cinta ayah adalah cinta yang membangun pondasi. Ia membentuk karakter, bukan sekadar memberi kenyamanan. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk bertahan, berjuang, dan percaya pada kekuatan doa. Di balik ketegasannya tersimpan kelembutan, dan di balik diamnya bersemayam kebijaksanaan.
Waktu kemudian memperkenalkan sosok lain: suami. Lelaki yang melanjutkan estafet kasih dalam bentuk baru. Ia tidak selalu romantis, tapi penuh tanggung jawab. Tidak pandai berpuisi, namun pekerja keras. Dalam dirinya, cinta kembali menjelma menjadi tindakan : menyiapkan, melindungi, menegakkan.
Keduanya, ayah dan suami, adalah dua wajah dari satu cinta yang sama. Cinta yang tidak berisik, tapi mengakar. Cinta yang tidak menuntut pengakuan, namun terus berbuat tanpa pamrih. Mereka bukan hanya membangun rumah, tetapi juga menegakkan peradaban kecil bernama keluarga.
Di tengah zaman yang semakin gemar menilai cinta dari kata-kata, kehadiran dua figur ini menjadi pengingat bahwa cinta sejati tidak perlu banyak bicara. Ia hidup dalam ketekunan, dalam pengorbanan, dalam kerja yang jarang disorot. Mereka mencintai bukan untuk dipuji, tetapi karena tahu keluarga harus berdiri tegak meski mereka sendiri lelah.
Anak-anak perlu belajar memahami bentuk cinta seperti ini. Bahwa kasih sayang ayah tidak selalu hadir dalam pelukan, tapi dalam disiplin yang ia tegakkan. Bahwa cinta suami tidak selalu diungkap dengan kata, tapi terlihat dari tanggung jawab yang dijalani dengan sabar. Inilah cinta yang mendidik, cinta yang membentuk karakter, bukan sekadar menenangkan perasaan.
Hari Ayah memberi kita kesempatan untuk menunduk sejenak dan menghargai cinta yang tidak terlihat. Cinta yang bekerja dalam sunyi, yang terus menumbuhkan kehidupan tanpa banyak tepuk tangan.
Karena di balik keberhasilan seorang perempuan, di balik kemandirian anak-anaknya, sering kali berdiri dua laki-laki yang sama-sama ikhlas bekerja dalam diam: ayah yang menanam, dan suami yang menyiram.
Selamat Hari Ayah Nasional. Untuk semua laki-laki yang mencintai tanpa banyak bicara, tapi meninggalkan gema panjang dalam kehidupan keluarga dan bangsa.[]
*Kepala MA Alhikmah Putri, Kab. Cirebon.






