Amien Rais: Bangsa Tidak Boleh Terjebak dalam Budaya Kemunafikan dan Omon-Omon
YOGYAKARTA (Suaraislam.id) — Ketua Majelis Syura Partai Ummat, HM Amien Rais, kembali melontarkan kritik keras terhadap kondisi politik nasional.
Dalam sebuah ceramah yang disiarkan melalui kanal YouTube pribadinya, Amien menilai bahwa salah satu penyakit terbesar yang mengancam kehidupan berbangsa adalah budaya kemunafikan yang semakin mengakar di kalangan elite.
Mengawali ceramahnya, Amien mengajak masyarakat melihat persoalan bangsa dari perspektif moral universal dan ajaran Islam. Menurutnya, sikap munafik merupakan sifat yang sangat tercela karena terdapat jurang yang lebar antara ucapan dan perbuatan.
“Dalam pandangan moral universal maupun akhlak keagamaan, sikap munafik adalah sifat yang amat tercela. Apa yang dikatakan kadang-kadang sangat meyakinkan, tetapi yang dilakukan justru sangat berlainan,” ujar Amien dikutip Ahad, 2 Agustus 2026.
Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa Inggris kemunafikan disebut hypocrisy dengan pelakunya hypocrite, sedangkan dalam bahasa Arab disebut nifaq dan pelakunya disebut munafik. Menurut Amien, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bahaya kemunafikan, terbukti dengan adanya Surah Al-Munafiqun dalam Al-Qur’an.
Amien mengingatkan bahwa suatu bangsa akan menghadapi masa depan yang buruk apabila para pemimpin, jenderal, intelektual, maupun tokoh agamanya terserang penyakit nifaq atau hipokrisi. Kondisi tersebut, menurutnya, akan melahirkan budaya omon-omon, yaitu banyak janji besar yang terdengar meyakinkan tetapi tidak pernah diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Program-programnya kedengarannya hebat, ternyata hanya sampai pada tingkat omon-omon,” katanya.
Menyinggung Pemerintahan Prabowo
Dalam ceramahnya, Amien kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan kondisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai pada awal pemerintahan masyarakat sempat menaruh harapan besar terhadap berbagai janji, terutama pemberantasan korupsi.
Menurut Amien, publik sempat optimistis bahwa pergantian kepemimpinan nasional akan membawa perubahan yang berarti. Namun, setelah berjalan beberapa waktu, ia menilai kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan.
“Permainannya masih sama. The game is still the same. Exactly the same. Only the players change,” katanya.
Ia juga mengkritik berbagai kebijakan yang dinilainya tidak konsisten. Salah satunya adalah slogan efisiensi anggaran yang, menurutnya, justru diikuti oleh pemborosan di berbagai sektor.
Selain itu, Amien juga menyinggung persoalan oligarki. Menurutnya, semangat untuk melawan oligarki tidak tampak dalam praktik pemerintahan.
Mengutip Al-Qur’an
Untuk memperkuat pandangannya, Amien mengutip penjelasan Al-Qur’an mengenai karakter orang beriman, orang kafir, dan orang munafik pada bagian awal Surah Al-Baqarah. Ia mengatakan, sifat orang beriman dijelaskan dalam dua ayat, demikian pula orang kafir, sedangkan sifat orang munafik dijelaskan dalam 13 ayat.
Hal itu, menurutnya, menunjukkan betapa besarnya bahaya kemunafikan dalam kehidupan manusia. Amien juga mengutip Surah At-Taubah ayat 67 yang menjelaskan bahwa orang-orang munafik saling mendukung dalam melakukan kemungkaran, melarang perbuatan baik, bersikap kikir, melupakan Allah, dan pada akhirnya menjadi golongan orang-orang fasik.
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama. Mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf serta menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)
Menurutnya, ayat tersebut tetap relevan untuk membaca realitas politik masa kini.






