Kasus HIV/AIDS di Bandung dan Kasih Sayang Allah yang Tak Terbendung

Pernahkah Teteh bayangkan, bentuk cinta yang lebih indah dari bunga? Ternyata ada, lo. Bahkan terasa lebih manis dari cokelat. Ada cinta yang terbalut tulus dalam penjagaan, ialah kasih sayang Allah terhadap perempuan. Akhirnya, lahir rasa tenang dan nyaman.
Tapi kini, itu semua ibarat mimpi. Penjagaan dan batas-batas Ilahi perlahan digeser oleh ide kebebasan. Perempuan hari ini dibiarkan menjaga dirinya sendiri. Jika mengikuti aturan Tuhan, ia disebut ketinggalan zaman.
Begitulah adanya. Aturan agama kini dipinggirkan. Perempuan dan laki-laki terbiasa bercengkrama tanpa tujuan mulia. Dari yang tertawa bersama, bergandengan bahkan melakukan aktivitas privat meski mereka bukan sepasang kekasih resmi di hadapan Tuhannya. Betapa jauh kondisi pergaulan hari ini. Luka demi luka bermunculan. Begitulah yang terjadi di kota indah bernama Bandung.
Data Terbaru HIV/AIDS di Bandung
Data menunjukkan, kasus HIV/AIDS di Kota Bandung sudah menembus 6.200 orang, dengan kenaikan terbesar pada usia produktif (Dinas Kesehatan Kota Bandung, dikutip Pikiran Rakyat, 10/10/2025). Menyikapi hal ini, Pemkot Bandung membentuk Forum Warga Peduli AIDS (WPA) di 151 kelurahan, melibatkan istri lurah dan TP PKK sebagai kader edukasi (Tribun Jabar, 08/10/2025).
Sekilas langkah ini tampak besar, Teh. Tapi pertanyaannya: apakah sudah menyentuh akar masalah? Jangan-jangan selama ini masalah HIV-AIDS hanya fokus merawat luka tanpa menutup sumber penyakitnya.
Selama ini apa sih fokus pemerintah dalam penanganan HIV/AIDS? Edukasi seks aman? Penggunaan kondom? Tes HIV rutin? Seakan-akan HIV hanya perkara medis, padahal ia bermula dari cara pandang hidup seseorang. HIV menyebar bukan sebatas virus, tetapi karena liberalisasi pergaulan. Karena gaya hidup tanpa batas, budaya “yang penting suka sama suka”.
Kita tidak sedang menyalahkan semua pengidap HIV ya, Teh. Apalagi, banyak perempuan yang kena HIV bukan karena mereka berbuat salah. Mereka tertular dari suaminya sendiri, dari proses melahirkan, atau dari situasi yang tidak bisa mereka hindari. Mereka yang seperti ini justru butuh perlindungan paling besar.
Akar Masalah HIV/AIDS
Ketika kita bicara akar, kita bicara sistem, bukan orang. Akarnya jelas: seks bebas. Seks bebas hanya tumbuh subur pada sistem yang mengagungkan kebebasan sebagai standar hidup. Sistem sekular demokrasi hari ini menjadikan kebebasan lebih penting daripada kehormatan. Maka jadilah zina dianggap urusan pribadi. Orientasi seksual menyimpang dilegalkan. Pornografi dinormalisasi sebagai hiburan. Selama akar ini tak pernah dicabut, kasus HIV terus tumbuh.
Inilah pentingnya mengapa kita membutuhkan Allah dalam masalah ini, Teh. Islam tidak cukup diyakini dalam hati, tapi nyata dalam perbuatan. Termasuk perkara pergaulan, Islam sempurna dalam aturan. Tidak cukup hanya individu yang taat kepada Allah. Pun masyarakat hadir untuk menjadi filter norma sosial. Perlu ada peran negara dalam merealisasikan aturan Islam yang sempurna.
Solusi Sistematis Islam Atasi HIV/AIDS
Preventif: Islam memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan. Jika bukan mahram, interaksi keduanya benar-benar terjaga. Perempuan dan laki-laki asing hanya berjumpa di ranah pendidikan, kesehatan, muamalah, dan transportasi umum. Di luar itu, ada batas yang tidak boleh dilampaui. Inilah bentuk cinta dari Sang Maha Cinta. Ia menjaga karena keduanya mulia. Bukan lagi seks aman, tapi hidup aman. Caranya adalah dengan taat Allah sesuai aturan.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra:32)
Tentu saja, ini butuh peran besar negara. Membangun pola pikir masyarakat agar tidak berorientasi kebebasan adalah peran besar sistem Pendidikan Islam. Tujuan pendidikan Islam adalah mencetak individu berkepribadian Islam. Negara wajib memberi layanan pendidikan yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga semua rakyat tergambar visi misi hidupnya, yaitu mencari rida Sang Pencipta.






